BATU - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memantik kewaspadaan pemerintah daerah. Meski jaraknya ribuan kilometer dari Kota Batu, dampak ekonominya dinilai berpotensi merembet ke sektor perdagangan luar negeri. Untuk itu, Pemkot Batu mulai pekan ini bakal menyiapkan langkah antisipasi untuk melindungi pelaku ekspor jika konflik tersebut memicu lonjakan biaya logistik global.
Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Batu Nurbianto Puji mengatakan arus ekspor-impor hingga kini masih berjalan normal. Belum ada gangguan signifikan terhadap distribusi barang. “Kondisinya masih stabil. Belum ada dampak langsung terhadap ekspor,” ujarnya.
Namun stabilitas tersebut dinilai tidak boleh membuat pelaku usaha lengah. Situasi geopolitik global sangat dinamis. Perubahan kecil di kawasan Timur Tengah dapat memicu efek berantai terhadap perdagangan internasional. Menurut Nurbianto, kekhawatiran utama bukan pada konflik militernya, melainkan dampak ekonomi yang mengikutinya.
Ketegangan kawasan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Jika harga bahan bakar melonjak, biaya transportasi dan logistik internasional hampir pasti ikut naik.
Kondisi itu dapat menekan daya saing produk ekspor asal Batu.
Selama ini sejumlah komoditas unggulan daerah telah menembus pasar Timur Tengah. Di antaranya produk pertanian segar, tanaman hias, serta berbagai produk makanan olahan dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Jika biaya transportasi naik karena BBM meningkat, harga produk kita otomatis ikut naik. Di titik itu, daya saing bisa menurun,” kata Nurbianto. Ia menambahkan, produk dari negara yang secara geografis lebih dekat dengan Timur Tengah berpotensi mengambil alih pasar.
Turki, misalnya, memiliki keunggulan jarak distribusi yang lebih pendek sehingga biaya logistik lebih rendah. Selain itu, kenaikan biaya operasional di hub atau pusat transit perdagangan di kawasan Timur Tengah juga bisa memperberat beban eksportir.
Jika biaya distribusi di titik-titik transit meningkat, margin keuntungan pelaku usaha dapat tergerus bahkan hilang. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah daerah menyiapkan skenario penyelamatan.
Salah satunya dengan mendorong pelaku usaha mengalihkan pasar sementara ke dalam negeri jika ekspor menjadi tidak ekonomis. Produk yang sebelumnya disiapkan untuk pasar ekspor dapat diserap melalui jaringan ritel modern domestik.
“Kualitas produk ekspor sebenarnya sangat kompetitif. Pasar domestik masih cukup luas untuk menyerapnya,” ujar Nurbianto. Namun ia mengingatkan, pasar domestik memiliki karakteristik yang lebih sensitif terhadap harga.
Karena itu, pelaku usaha perlu melakukan penyesuaian harga agar produk tetap terserap pasar. “Konsekuensinya memang ada koreksi harga. Itu harus dihitung pelaku usaha agar perputaran usaha tetap berjalan,” kata dia. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian