Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (18), Menunggu Janji Investasi

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 13 Februari 2026 | 09:38 WIB
SEPI: Seorang pedagang di Pasar Wisata Songgoriti menata buah yang sudah berhari-hari tak laku terjual beberapa waktu lalu.
SEPI: Seorang pedagang di Pasar Wisata Songgoriti menata buah yang sudah berhari-hari tak laku terjual beberapa waktu lalu.

UDARA sejuk Songgoriti masih menyimpan aroma masa lalu yang tak sepenuhnya pergi. Di antara deretan bangunan yang menua dan kios-kios yang separo tutup, warga menjalani hari dengan rutinitas sederhana. Mereka berdagang, menunggu pembeli, sekaligus menunggu kabar yang telah terlalu sering datang dan pergi.

Banyak warga menanti janji kebangkitan kawasan wisata legendaris itu. Kabar tersebut terus berembus. Investor disebut-sebut siap masuk. Pembangunan baru dijanjikan. Songgoriti, yang lama terlelap dalam sepi, disebut akan kembali digerakkan. Namun bagi warga, kabar seperti ini bukan hal baru. Harapan yang datang kerap berujung pada kekecewaan.

Kawasan wisata Songgoriti yang membentang di lahan lebih dari 11 ribu meter persegi kembali menjadi sorotan. Setelah bertahun-tahun redup, kawasan ini dikabarkan akan dibangkitkan melalui masuknya investor baru. Wacana itu menghidupkan optimisme, meski masih diselimuti keraguan.

Perusahaan Daerah Jasa Yasa mengonfirmasi adanya dua investor utama yang siap mengelola kawasan tersebut. Fokus pengembangan akan diarahkan pada dua sektor, yakni area pemandian air panas seluas sekitar 8 ribu meter persegi dan pasar wisata sekitar 3 ribu meter persegi.

Pembangunan disebut akan dilakukan bertahap dan ditargetkan rampung pada akhir 2026. Tahap awal difokuskan pada revitalisasi pemandian air panas. Strateginya sederhana yakni menghidupkan kembali aktivitas wisata terlebih dahulu. Jika wisatawan mulai kembali berdatangan, pengembangan pasar wisata akan menyusul.

Pasar tersebut dirancang sebagai ruang pemberdayaan UMKM lokal agar roda ekonomi warga sekitar kembali berputar. Tak hanya itu, investor lain juga disebut berencana membangun restoran serta lapangan padel di kawasan tersebut. Seluruh proyek dijanjikan mulai menampakkan realisasi fisik pada akhir tahun ini.

Namun, tentu saja itu semua akan mulai dikerjakan setelah persoalan administrasi dan penyelesaian utang-piutang rampung. Di atas kertas, rencana itu terdengar menjanjikan. Namun bagi warga Songgoriti, janji seperti ini telah terlalu sering terdengar.

Ketua Lembaga Adat Lingkungan Songgoriti, Wiji Mulyo, menyambut baik kabar masuknya investor. Tetapi ia menahan diri untuk tidak terlalu berharap. Pengalaman masa lalu membuatnya belajar bersikap hati-hati.

“Tahun lalu juga sempat ada informasi akan dibangun semacam minimarket tapi gagal. Kemudian di Cempaka juga pernah ada rencana pembangunan, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” ungkapnya.

Meski begitu, Wiji tetap menyimpan harapan agar rencana kali ini benar-benar berjalan. Ia memahami bahwa kebangkitan Songgoriti bukan hanya kepentingan warga setempat, melainkan juga masyarakat luas yang menggantungkan hidup dari kawasan tersebut.

“Mudah-mudahan tahun ini benar-benar dilaksanakan. Karena manfaatnya tidak hanya untuk warga sini, tapi juga banyak pendatang yang berjualan di Songgoriti,” katanya. Selama ini, kabar investor yang datang melakukan survei lapangan bukan hal langka.

Namun, banyak di antaranya berakhir tanpa kelanjutan pembangunan. Songgoriti seperti menjadi panggung janji yang tak kunjung menemukan bentuk nyata. “Ya intinya semoga bisa kembali jaya seperti dulu. Songgoriti ini aset yang berharga,” tegas Wiji.

Ia juga menyoroti pentingnya pembenahan manajemen pengelolaan kawasan. Menurutnya, selama pengelolaan masih berada di tangan BUMD tanpa perbaikan manajemen yang signifikan, peluang kemajuan akan sulit tercapai. “Sejatinya manajemennya perlu dibenahi. Orang pemerintahan belum tentu punya kompetensi bisnis sekuat pelaku usaha,” ujarnya.

Nada kehati-hatian serupa datang dari pelaku usaha lokal. Prabowo, salah satu pedagang di kawasan Songgoriti, mengaku sudah terlalu sering mendengar wacana pembangunan yang berakhir tanpa realisasi.

“Dulu bahkan ada yang sampai membeli tanah dengan berhutang bank untuk membangun usaha di sini. Tapi akhirnya potensi usaha jauh di bawah ekspektasi,” katanya. Kendati demikian, ia tetap menyambut positif rencana masuknya dua investor baru.

Keduanya adalah Songgoriti Hot Spring yang akan mengelola pemandian air panas dan  PT Ngalam Kane yang tengah mengurus perizinan restoran dan lapangan padel. Baginya, kebangkitan Songgoriti akan membawa efek domino bagi ekonomi lokal.

Jika tempat wisata kembali hidup, kunjungan pasar akan meningkat, vila-vila terisi, dan aktivitas perdagangan kembali menggeliat. “Kalau tempat wisatanya dibenahi, otomatis kunjungan naik. Pasar bisa ramai lagi, vila juga terisi,” ujarnya.

Namun ia berharap rencana kali ini benar-benar digarap serius. Warga tak ingin lagi disuguhi janji yang berakhir sebagai wacana. “Semoga investor yang masuk benar-benar serius. Jangan seperti dulu-dulu, batal lagi,” katanya pelan. (*/dre)

Editor : A. Nugroho
#pedagang buah #kota batu #wisata songgoriti