BATU - Pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP di Kota Batu kian dekat. Namun, di balik agenda evaluasi kompetensi siswa itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu dihadapkan pada ujian yang sesungguhnya. Yakni ketimpangan sarana prasarana antarsekolah.
Untuk mengantisipasi kendala teknis, Disdik bahkan membuka opsi peminjaman fasilitas lintas satuan pendidikan. Sekolah yang belum memiliki perangkat memadai diperbolehkan menumpang pelaksanaan ujian di sekolah lain. Termasuk di SMA dan SMK yang memiliki laboratorium komputer yang memadai.
Kepala Disdik Kota Batu, Alfi Nurhidayat, mengatakan persiapan TKA sudah memasuki tahap krusial. Sosialisasi bersama seluruh satuan pendidikan telah digelar 4 Februari lalu. Tujuannya untuk menyamakan persepsi mengenai parameter dan instrumen ujian yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Tujuan utama kami menyamakan persepsi terkait pelaksanaan TKA, mulai dari instrumen, teknis hingga standar penilaian,” ujarnya. Pelaksanaan TKA dijadwalkan berlangsung serentak secara nasional. Untuk jenjang SMP akan digelar pada 6-16 April, sedangkan jenjang SD pada 20-30 April.
Meski waktu pelaksanaan relatif panjang, kesiapan teknis di daerah dinilai harus matang sejak awal. Menurut Alfi, TKA tidak semata menjadi ajang pengukuran angka akademik. Namun, juga refleksi kualitas proses pembelajaran di masing-masing sekolah. Karena itu, kesiapan sarana dan prasarana menjadi perhatian utama.
Secara umum, fasilitas di satuan pendidikan disebut telah tersedia. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala di sejumlah sekolah. “Jika ada fasilitas yang belum memadai, kami siapkan skema lintas satuan pendidikan. Sekolah bisa memanfaatkan laboratorium komputer milik sekolah lain,” jelasnya.
Skema tersebut dinilai realistis karena jadwal ujian SMA/SMK tidak berbarengan dengan SD dan SMP. Dengan demikian, penggunaan fasilitas bisa dilakukan bergantian. Beberapa sekolah juga akan mengoptimalkan penggunaan chromebook yang sudah tersedia.
Setiap ruang ujian direncanakan diisi maksimal 25 peserta dengan tiga sesi per hari.
Mata pelajaran yang diujikan meliputi Matematika dan Bahasa Indonesia. Sekolah diberi opsi memilih model ujian daring penuh atau semi daring. Pilihan model tersebut diminta disesuaikan dengan kesiapan perangkat dan jaringan.
Di sisi lain, penguatan sumber daya manusia juga menjadi fokus. Pengawasan ujian tidak hanya dilakukan internal sekolah, tapi melibatkan pihak eksternal. “Pengawas tidak hanya dari lokal, ada tim kementerian yang bekerja sama dengan perguruan tinggi,” kata Alfi.
Langkah itu ditempuh untuk memastikan integritas ujian. Terlebih, evaluasi terhadap pelaksanaan TKA jenjang SMA sebelumnya sempat memunculkan keluhan terkait relevansi materi soal.
Untuk menghindari persoalan serupa, Disdik mengerahkan tim penyusun soal lokal agar materi yang diujikan selaras dengan pembelajaran di kelas. Sistem soal juga dibuat dinamis dengan pengacakan otomatis.
Dengan begitu, setiap siswa menerima paket soal berbeda meski duduk bersebelahan. Kendati bersifat opsional, Disdik tetap mendorong partisipasi seluruh sekolah. Wakil Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Kota Batu, Budi Prasetyo, menilai TKA penting sebagai instrumen pemetaan kompetensi siswa.
“Ini bukan sekadar formalitas. Dari TKA, kami bisa memantau perkembangan kompetensi siswa secara lebih terukur,” ujarnya. Ia menambahkan, hasil TKA berpotensi menjadi rujukan dalam proses seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. Bahkan, Disdik Kota Batu telah menerapkan ujian lokal sebagai salah satu syarat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Di tengah berbagai persiapan itu, pelaksanaan TKA di Kota Batu pada akhirnya tidak hanya menguji kemampuan akademik siswa. Lebih dari itu, TKA menjadi cermin kesiapan sistem pendidikan daerah. Mulai dari infrastruktur digital, pemerataan fasilitas, hingga integritas penyelenggaraan ujian. (ori/dre)
Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi
Editor : Aditya Novrian