BATU - Candi Songgoriti masih berdiri. Pelajar masih datang belajar sejarah. Namun di balik itu, situs purba di jantung Kota Batu ini terjebak tarik-menarik kewenangan yang membuat revitalisasi hanya menjadi wacana yang tak pernah benar-benar tiba.
Hening menyambut siapa pun yang melangkahkan kaki ke pelataran Candi Songgoriti. Di bawah naungan pepohonan rimbun, waktu seolah melambat. Lumut hijau merambat di sela-sela batu, menyelimuti tubuh candi dengan nuansa arkais yang memikat sekaligus muram.
Situs yang diyakini sebagai peninggalan masa peralihan Mataram Kuno menuju Kerajaan Medang itu tampak tegak tapi lelah. Memasuki area candi serasa menyusuri lorong waktu yang buram. Siluet bangunan peninggalan era Empu Sindok itu masih anggun.
Namun di sekelilingnya, ada tanda-tanda pengabaian yang sulit disangkal. Pagar besi pembatas tampak renta. Karat menggerogoti hampir seluruh bagiannya. Kondisi itu seakan berteriak minta diganti. Sayangnya, tak ada tangan yang benar-benar berani menyentuhnya.
Tak jauh dari situ, bangunan loket berdiri dengan wajah kusam. Cat mengelupas, dinding kusut oleh usia. Ia menjadi saksi bisu betapa lamanya kawasan ini tak tersentuh polesan revitalisasi. Candi Songgoriti tidak mati. Ia hanya dibiarkan berjalan sendiri.
Sementara, para pengelolanya sibuk berdebat di atas meja birokrasi. Secara geografis, Candi Songgoriti berada di wilayah Kota Batu. Namun urusan pengelolaan tidak sesederhana peta administrasi.
Situs ini berada di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK). Sementara lahan di sekelilingnya merupakan aset Pemerintah Kabupaten Malang yang kini dikelola oleh PT Jasa Yasa. Dualisme kepentingan itulah yang menciptakan sekat kaku.
Bukan karena warga sekitar tak peduli. Justru sebaliknya, keterikatan mereka masih kuat. Masalahnya ada pada rantai birokrasi yang kusut dan tak kunjung terurai. “Penyebab utamanya jelas, status lahan tidak pasti. Jadi dua daerah sama-sama bingung melakukan revitalisasi,” ujar Feti Fera, Juru Pelihara Candi Songgoriti.
Selama lima tahun terakhir, Feti menyaksikan langsung bagaimana candi ini seolah berjalan di tempat. Menurutnya, Dinas Pariwisata Kota Batu bukan tanpa usaha. Petugas beberapa kali datang, meninjau, dan mencatat berbagai kebutuhan perbaikan. Namun kunjungan itu hampir selalu berakhir tanpa tindak lanjut.
“Selalu mentok di kewenangan. Hak pengelolaan tidak bisa dilakukan penuh karena statusnya tidak jelas,” katanya. Padahal, revitalisasi dinilai sangat mendesak. Pagar, taman, hingga penataan kawasan sekeliling candi membutuhkan pembaruan agar situs lebih layak dan aman. Namun ketidakpastian status membuat Pemkot Batu serba salah melangkah.
“Bahkan sertifikat Candi Songgoriti masih dipegang PT Jasa Yasa. Intervensi jadi sulit,” tegas Feti. Persoalan kian terasa pedih dengan keberadaan bangunan hotel yang berdiri persis di sisi candi. Dalam aturan zonasi cagar budaya, area inti seharusnya steril dari bangunan modern. Namun di Songgoriti, batas sakral itu seolah diabaikan.
Keberadaan bangunan tersebut akhirnya menarik perhatian aparat penegak hukum. Sekitar satu bulan lalu, Kejaksaan Tinggi meninjau langsung lokasi. Peninjauan itu dilakukan untuk menyelidiki hambatan pemindahan aset sekaligus menelusuri persoalan tata kelola kawasan cagar budaya.
“Dari situ kami mulai berharap ada titik terang,” kata Feti. Meski hingga kini, kepastian pemindahan aset dari Kabupaten Malang ke Kota Batu belum benar-benar ia terima.
Ironisnya, di tengah minimnya sentuhan kebijakan, denyut kehidupan di Candi Songgoriti tak pernah benar-benar padam.
Setiap pekan, puluhan pengunjung masih datang. Rombongan pelajar mempelajari sejarah Malang Raya. Peneliti dan pemerhati budaya menelusuri teknik arsitektur masa lalu yang tertanam di setiap batu. Lebih dari sekadar objek wisata, situs ini juga tetap hidup secara spiritual. Bagi warga lokal, Candi Songgoriti adalah punden sakral yang harus dihormati.
Setiap bulan Suro, ritual Bersih Desa rutin digelar. Jamasan pusaka, doa keselamatan, hingga kedatangan kolektor dari luar kota menjadi penanda bahwa candi ini masih dijaga meski bukan oleh negara. Candi Songgoriti bukan hanya soal legenda atau catatan sejarah. Ia adalah monumen ketabahan warga yang menjaga warisan masa lalu agar tetap bernapas. (*/dre)
Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi
Editor : Aditya Novrian