Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Walking Tour Jadi Strategi Baru Wisata Edukasi di Selecta Kota Batu

Fajar Andre Setiawan • Rabu, 28 Januari 2026 | 09:48 WIB
BERNILAI SEJARAH: Salah seorang tour guide menjelaskan tulisan tangan Soekarno di Vila Bima Shakti di kawasan Taman Rekreasi Selecta kemarin (27/1).
BERNILAI SEJARAH: Salah seorang tour guide menjelaskan tulisan tangan Soekarno di Vila Bima Shakti di kawasan Taman Rekreasi Selecta kemarin (27/1).

BUMIAJI – Taman Rekreasi Selecta tak lagi hanya menawarkan wisata keluarga berbasis hiburan. Ikon wisata legendaris Kota Batu itu kini mulai memosisikan diri sebagai ruang napak tilas sejarah melalui program Selecta Living Museum. Konsep walking tour tersebut mengajak wisatawan menelusuri jejak kolonialisme, perlawanan, hingga lahirnya model ekonomi kerakyatan yang tumbuh pascakemerdekaan.

Melalui tajuk Walking Tour Living Museum, pengelola Selecta menyusun ulang narasi sejarah yang selama ini tersimpan di balik lanskap taman dan bangunan kolonial. Program ini menyasar segmen wisatawan yang mencari pengalaman edukatif. Tur sejarah dimulai dari lobi Hotel Selecta. Hotel itu merupakan bangunan bergaya kolonial yang didirikan pada 1928 oleh Fransiscus Reyter De Wildt, keturunan pengusaha gula asal Banyumas. 

Pemandu Selecta Living Museum, Dino Dirk, menjelaskan De Wildt ditangkap tentara Jepang pada 1943. Lalu, dia diasingkan ke Bandung hingga wafat dalam tahanan pada 1945.

Pascakemerdekaan, Selecta tidak jatuh ke tangan korporasi besar. Pada 1952, sebanyak 47 warga Desa Tulungrejo yang dipimpin Santoso Tarno Atmodjo, seorang mantan pegawai De Wildt, bergotong royong membeli aset tersebut.

Hingga kini, pengelolaan Selecta dilakukan secara kolektif melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan. “Inilah cikal bakal model bisnis pariwisata berbasis kerakyatan,” kata Dino.

Perjalanan berlanjut ke Villa Bima Shakti. Kawasan yang disebut sebagai titik nol perkembangan Selecta pernah disinggahi Presiden pertama RI Soekarno. Di sana juga ada patok simbolik yang menandai lahirnya pariwisata modern Indonesia.

“Di dalam vila terdapat sejumlah benda cagar budaya yang berkaitan langsung dengan Bung Karno dan Bung Hatta,” jelas Dino. Meja dan kursi yang kerap digunakan keduanya untuk berdiskusi dan menulis pemikiran kebangsaan pada 1955 masih terawat.

Beberapa manuskrip dan dokumentasi dipamerkan sebagai bagian dari narasi sejarah.

Selecta juga mengangkat nilai ekologis lewat Living Forest dan Taman Lumut. Kawasan ini ditanami cemara pinus pilihan De Wildt dan diyakini sebagai taman lumut terbesar kedua di Indonesia setelah Cibodas. “Lumut yang tumbuh subur menandakan kualitas air yang sangat baik,” ujar Dino.

Sebagai penutup, wisatawan diajak ke Zweembad. Di sana ada kolam renang bersejarah yang sempat hancur akibat bombardir Sekutu pada 1949. Kolam ini pernah berstandar internasional dan menjadi lokasi kejuaraan renang dunia. Papan luncur asli era Belanda masih digunakan hingga kini.

Direktur Utama PT Selecta, Sujud Hariadi, menilai konsep Living Museum menjadi strategi diversifikasi pasar wisata. “Selecta tidak lagi semata destinasi keluarga. Wisata sejarah membuka segmen baru yang selama ini belum tergarap,” tandasnya. (ori/dre)

Editor : Aditya Novrian
#walking tour #taman rekreasi selecta #kota batu #rups