BATU - Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Batu dalam beberapa pekan terakhir tak hanya mengganggu siklus tanam. Namun, juga menekan pendapatan petani bunga pikok. Intensitas hujan yang nyaris tanpa jeda membuat kualitas bunga menurun. Sementara permintaan pasar juga tak begitu tinggi.
Salah satu petani pikok, Irgi Efendi, mengungkapkan hujan berkepanjangan menyebabkan batang bunga mudah roboh. Karakter batang pikok relatif rapuh. Itu membuat tanaman sulit bertahan ketika terus-menerus diguyur air. “Kalau sudah roboh, tidak bisa dipanen. Banyak yang mulai busuk karena menyentuh tanah,” kata Irgi.
Menurut dia, ketahanan bunga pikok sangat dipengaruhi oleh varietas warna. Pikok berwarna ungu relatif lebih kuat menghadapi hujan. Sedangkan, varietas putih dengan kelopak lebih kecil cenderung mudah rontok dan rusak. Kondisi ini memaksa petani melakukan seleksi ketat saat panen. Otomatis volume jual ikut menyusut.
Tekanan petani tak berhenti pada faktor cuaca. Permintaan pasar yang sedang lesu membuat distribusi bunga semakin terbatas. Petani harus mengantre giliran panen karena suplai belum terserap sepenuhnya oleh pasar. “Kami harus menunggu stok supplier habis dulu. Panennya gantian supaya semua kebagian,” ujar Irgi.
Di tengah produksi yang menurun, harga bunga pikok di tingkat petani relatif stagnan. Satu ikat besar pikok masih dihargai sekitar Rp8.000. Tidak ada kenaikan signifikan meski risiko gagal panen meningkat. Sebaliknya, di tingkat pengecer, satu ikat besar dapat dipecah menjadi beberapa ikat kecil dan dijual kembali dengan harga Rp10-15 ribu per ikat.
Dalam kondisi normal, lahan seluas 400 meter persegi mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp5 juta sekali panen. Namun, cuaca ekstrem membuat potensi tersebut sulit tercapai. “Sekarang harus pilih-pilih yang benar-benar bagus. Untungnya jadi tidak seberapa,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan petani lainnya, Samsul Hadi. Meski begitu, ia menilai bunga pikok masih memiliki keunggulan dibanding tanaman hortikultura lain. Terutama dari sisi perawatan dan siklus panen. “Masa panennya cepat, sekitar tiga bulan sudah bisa dipotong. Dalam satu lahan bisa panen dua sampai tiga kali,” ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, sebagian petani memilih beralih sementara ke komoditas lain sambil menunggu momentum pasar kembali bergairah. “Biasanya permintaan naik lagi setelah Lebaran atau Idul Adha. Banyak hajatan pernikahan, bunga pikok kembali dicari,” pungkas Samsul. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian