BATU - Organisasi Angkutan Darat (Organda) meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Batu memberikan subsidi peremajaan angkutan kota (angkot). Usulan itu disampaikan sebagai upaya menyelamatkan layanan transportasi publik yang kian tergerus. Utamanya akibat armada yang menua dan menurunnya minat penumpang.
Ketua Organda Kota Batu Totok Adi Muntolip mengatakan penurunan jumlah penumpang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi angkot yang sudah uzur menjadi salah satu penyebab masyarakat beralih ke moda transportasi lain. “Padahal angkot kami rutin uji kir tiap enam bulan dan dipastikan laik jalan,” ujarnya.
Ia menambahkan lonjakan penumpang hanya terlihat di beberapa trayek setelah bus Trans Jatim mulai beroperasi pada 20 November lalu. Namun. peningkatan itu terbatas pada jalur Batu-Selecta dan Batu-Songgoriti. “Ada penumpang yang naik bus, turun di Pasar Induk Among Tani, lalu naik bus lagi ke daerah asalnya,” katanya.
Pola itu tentu saja tidak mendukung operasional angkot. Totok memperkirakan keramaian itu bersifat jangka pendek dan tidak cukup memperbaiki kondisi angkot secara keseluruhan. Salah satu persoalan paling krusial yakni kemampuan finansial sopir. Menurut Totok, sebagian besar armada dimiliki sopir melalui skema kredit.
Dengan pendapatan harian hanya Rp30-50 ribu, peremajaan angkot mustahil dilakukan tanpa intervensi pemerintah. Sebab, sebagian besar pendapatan habis untuk cicilan. Sisanya untuk kebutuhan harian. “Kalau begini terus, angkot bisa hilang pelan-pelan. Untuk itu, kami berharap Pemkot Batu dapat memberikan subsidi peremajaan armada. ” tuturnya.
Intervensi pemerintah dianggap penting untuk menjaga keberlangsungan angkot sebagai moda transportasi publik sekaligus pelengkap layanan Trans Jatim. Pihaknya akan segera mengusulkan rencana ini ke Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu. Tanpa dukungan pemkot, kualitas layanan angkot akan terus menurun dan keberadaannya terancam.