
Oleh: Mukhammad Amin Tohari S.Ag., M.Pd.I
Refleksi terhadap semangat Ki Hajar Dewantara bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan panggilan untuk meninjau kembali "ruh" kita sebagai pendidik di era modern.
1. Menanggalkan Ego, Mengutamakan "Sistem Among"
Refleksi terbesar dimulai dari perubahan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Ini adalah simbol penanggalan kasta dan ego demi menyatu dengan rakyat.
Sebagai pendidik, apakah kita masih memosisikan diri sebagai penguasa kelas yang haus dihormati, atau sudah menjadi "Pamong" yang menuntun kekuatan kodrat anak dengan penuh kasih sayang?
Mendidik dengan hati berarti memandang setiap murid sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar angka di dalam buku nilai.
2. Pendidikan sebagai Alat Perjuangan Bangsa
Terlihat jelas transisi beliau dari jurnalis nasionalis menjadi tokoh pendidikan. Beliau menyadari bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang memerdekakan batin.
Semangat Kebangsaan: Apakah pembelajaran yang kita berikan saat ini sudah menumbuhkan rasa cinta tanah air dan profil pelajar yang berkarakter Pancasila?.



