BATU - Belum semua kompos yang dihasilkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS 3R). Itu lantaran sampah organik yang diolah beragam. Ada yang berasal dari limba rumah tangga. Ada pula yang murni dari limbah pertanian seperti buah dan sayur. Di samping itu, proses pengomposan selama ini masih dilakukan secara sederhana.
Itulah mengapa Pemerintah Kota (Pemkot) Batu perlu menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) pengolahan sampah organik. Khususnya ketika rumah kompos nantinya sudah terbangun di tiap TPS 3R. Ketua TPS 3R Dadaprejo Makmur Bambang Sutrisna mengaku kompos yang dihasilkan sejauh ini belum banyak yang tersalurkan ke petani.
Alasannya kandungannya tidak memenuhi standar kebutuhan para petani. Kompos dari TPS 3R Dadaprejo memiliki kandungan yang kurang cocok untuk tanaman. Sebab, sampah organik yang diolah kebanyakan berasal dari limbah rumah tangga. Sehingga, perlu campuran bahan lain untuk memenuhi standar tertentu.
“Berbeda dengan kompos dari TPS 3R di Kecamatan Bumiaji,” imbuh Bambang. Hasil kompos dari Desa Tulungrejo itu memiliki kualitas sangat baik. Bahkan, pengomposan di sana sudah banyak dimanfaatkan para petani. Sebab, sampah organik yang dihasilkan berasal dari limbah sayuran dan buah.
“Kalau saran saya memang hasil kompos harus diintegrasikan di satu lokasi setelah diolah,” jelasnya. Tujuannya untuk memastikan standarisasi kandungan. Apabila kandungannya belum sesuai, penambahan zat tertentu juga bisa dilakukan di sana. Dengan begitu, kualitas kompos yang dihasilkan akan lebih terstandar.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan akan melakukan uji laboratorium lebih dulu sebelum didistribusikan kepada petani. Tujuannya untuk mengetahui kandungan pH dan kebutuhan zat lainnya dalam sebuah produk pupuk kompos. “Kami akan komunikasikan dulu kebutuhan pupuk kompos dengan para petani sesuai komoditasnya,” tandas dia. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho