BATU - Omzet pedagang kaki lima (PKL) di Alun-Alun Kota Wisata Batu turun di tengah lonjakan wisatawan selama libur Lebaran.
Padahal menurut data Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, setidaknya ada 243.811 kunjungan wisata selama momen Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah.
Lonjakan kunjungan wisata di alun-alun sudah dimulai sejak 1 April lalu.
Angka rata-rata kunjungannya naik menjadi 180 ribu wisatawan per hari.
Padahal pada hari-hari biasa, rata-rata kunjungan hanya sekitar 16 ribu saja.
“Kami sudah aktif berjualan H+1 Lebaran. Itupun omzetnya tidak naik,” ungkap Ketua Umum Paguyuban PKL Alun-Alun, Puspita Herdysari.
Padahal momen tersebut cukup diharapkan para PKL.
Mengingat pada Ramadan lalu, sebagian PKL memilih menutup lapaknya sebulan penuh.
Alasannya karena omzet yang didapat tak seperti hari-hari biasanya.
“Saat momen Lebaran kemarin omzet kami sama seperti saat akhir pekan,” bebernya.
Pipit, sapaan akrabnya, mengaku kondisi tahun ini jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya.
Dia mengaku biasanya bisa meraup keuntungan 3-4 kali lipat dari hari biasa saat Lebaran.
Tentu kerugian tak bisa terelakkan.
Pasalnya, pedagang biasanya sudah menyiapkan stok dagangan lebih banyak untuk lonjakan wisatawan.
Senada dengan itu, salah seorang PKL lainnya, Yustiawan, juga mengalami hal yang sama.
Dia juga menduga momen libur Lebaran akan menjadi kesempatan emas untuk meraup omzet besar.
Setidaknya seperti tahun-tahun sebelumnya.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Pedagang siomay itu tahun lalu bisa menjual 150 porsi per hari.
Namun, tahun ini hanya terjual 70 porsi per hari.
Padahal, dia sudah menyiapkan stok bahan makanan lebih banyak dari biasanya.
Tak pelak, dia terpaksa membuang sejumlah bahan makanan yang tak bisa disimpan lama.
Kendati begitu, tak ada pilihan lain bagi Yustiawan selain tetap berjualan.
Sebab, itu satu-satunya sumber penghasilan untuk keluarganya.
“Pedagang lain juga mengeluhkan hal yang sama. Kami tidak tahu persis penyebabnya,” pungkas pria asal Kota Bandung itu. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho