BATU - Produktivitas apel di Kota Batu sudah tak bisa diandalkan lagi.
Petani apel yang masih bertahan kini hanya bergantung dari kunjungan wisata saja.
Pasalnya, banyak petani yang akhirnya membuka lahannya untuk wisata petik apel.
Itu dinilai efektif membantu petani untuk bertahan dan menekan potensi kerugian.
Ketua Kelompok Tani Maju Bersama, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Utomo mengatakan lahan pertanian yang disulap menjadi objek wisata petik apel bisa meningkatkan pendapatan hingga belasan juta.
Jika tidak begitu, dia mengaku petani apel sudah bisa dipastikan akan kolaps.
Dia mengatakan periode panen di wisata petik apel menjadi berkurang.
Dari yang biasanya bisa tiga kali dalam setahun, kini hanya empat kali saja.
Namun, Utomo mengaku tak masalah dengan hal itu.
“Sebab, memang sudah banyak dipetik oleh wisatawan,” ungkapnya.
Kehadiran wisatawan membuat beban operasional lahan pertanian apel menjadi ringan.
Sebab, petani akan memeroleh tambahan pendapatan dari tiket masuk wisata.
Itu akan mereka gunakan sebagai biaya perawatan pohon apel di sana.
Selain itu, biaya panen apel juga berkurang.
“Sekali panen biasanya kami butuh sekitar 10 orang. Setidaknya kami keluarkan biaya sebesar Rp 3 juta untuk upah dan konsumsi buruhnya,” imbuhnya.
Harga apel per kilogram saat petik apel juga lebih tinggi daripada borongan.
Harga borongan apel di tingkat petani hanya berkisar Rp 6 ribu per kilogram. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana