KOTA BATU - Sampah masih menjadi permasalahan di Kota Batu.
Tak hanya mencemari jalan, sampah juga mencemari sungai.
Salah satunya adalah Sungai Brantas.
Melihat hal tersebut, Komunitas peduli lingkungan Sapu Bersih Nyemplung Kali atau Sabers Pungli mulai bergerak untuk susur sungai.
Salah seorang anggota komunitas Sabers Pungli Kota Batu Doddy Eko Wahyudi, mengatakan kelompok tersebut mulai bergerak sejak 2017.
Tak sendiri, bersama masyarakat, pemerintah, komunitas, dan stake holder lain turun membersihkan sampah di sungai.
"Komunitas ini memiliki 2 kegiatan. Kegiatan membersihkan kali/sungai setiap minggu secara rutin bernama Sabers Pungli. Serta, diskusi ekologi, edukasi, pendampingan, Workshop dan lainnya yang bernama ngopi atau ngobrol pintar," jelasnya.
Pada awalnya sampah sangat banyak di aliran Sungai Brantas.
Doddy bercerita dulu setiap bersih-bersih sungai, sekitar 100 sampai 200 meter terkumpul sekitar 4 ton sampah.
Sembari membersihkan sungai, komunitas tersebut juga mengedukasi masyarakat tentang kesadaran untuk menjaga sungai dari sampah.
"Selain membersihkan sungai dan mengedukasi masyarakat, kami juga bergerak di kegiatan lain. Kegiatan tersebut seperti pemasangan biopori dan trash barrier," ujarnya.
Selama 5 tahun bergelut dengan sampah sungai, hasil dari kerja keras masyarakat, pemerintah, dan Sabers Pungli mulai terlihat.
Volume sampah di sungai makin hari makin menurun.
"Saat TPA Tlekung ditutup sempat terjadi lonjakan sampah meski tidak di semua area sungai. Namun, akhirnya kembali sungai kembali bersih seperti semula. Semakin ke sini semakin berkurang tinggal sekitar 500 kilogram," katanya.
Terhitung Sabers Pungli telah melakukan aktivitas sebanyak 177 kali sejak September 2017.
Dalam 1 bulan, komunitas tersebut bisa melakukan pembersihan sungai paling sedikit satu kali.
"Awalnya hampir setiap Minggu kita melakukan bersih sungai. Namun sekarang minimal sebulan sekali kami turun," jelasnya.
Dari penelusuran ke sungai-sungai, sampah terbanyak ada di Sungai Brantas.
Rata-rata sampah berada di bawah jembatan.
Hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang melempar sampahnya dari atas jembatan.
"Saat ini, hanya tersisa sedikit sampah di sungai. Kalau ada mungkin kebanyakan sampah organik seperti daun kering dan lainnya," pungkasnya. (sif/lid)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana