BATU - Puluhan kursi penuh lukisan ditata dengan unik pada pameran Kursi Exhibition. Bertempat di Galeri Raos, pameran karya tersebut diikuti oleh 25 seniman asal Kota Batu dan sekitarnya. Pamerannya sendiri akan berlangsung sejak 10 hingga 16 Februari mendatang.
Salah seorang penyelenggara acara Harry Van Zhirenk mengatakan, masing-masing seniman membuat 1 karya. Lalu ada 1 karya lagi yang dikerjakan bersama-sama. Total, ada 27 karya yang dipamerkan pada acara tersebut. "Rata-rata senimannya berasal dari Kota Batu. Namun ada sebagian yang berasal dari Kecamatan Pujon, Ngantang, dan Kasembon. Seluruhnya tergabung dalam Pondok Seni Batu," jabar pria asal Desa Gunungsari itu.
Pemilihan kursi sebagai media lukis merupakan suatu tantangan baru bagi para seniman Kota Batu. Zhirenk mengatakan, melukis di dua dimensi sudah sangat umum. Dalam pameran ini Pondok Seni Batu ingin mencoba dan menampilkan hal baru. "Kebetulan kita juga mempunyai banyak properti kursi. Akhirnya kami memutuskan untuk berkarya melalui media kursi," jelasnya.
Karya-karya di sini masuk ke seni 3D karena melukisnya dilakukan secara menyeluruh di semua bagian kursi. Zhirenk berharap kegiatan ini akan menjadi sebuah inspirasi bagi seniman di dalam Pondok Seni Batu maupun masyarakat luas. "Dengan menampilkan ini, masyarakat jadi mengerti bahwa media apa saja bisa kita gunakan untuk berkarya," ujarnya.
Di sisi lain, salah seorang seniman Wathoni mengatakan, dalam membuat karyanya ia memerlukan waktu 4 hari. Kursi sendiri secara kata bisa bermakna metafora kekuasaan atau dalam arti harfiahnya yaitu tempat duduk.
Sementara itu, salah seorang pengunjung Wulan mengatakan, pemilihan kursi sebagai media seni baru membuat pameran tersebut menjadi unik. Hal ini juga membawa angin segar baru bagi penikmat seni di Kota Batu. "Biasanya, karya lukis hanya melalui canvas atau bidang datar lainnya. Namun menggunakan kursi sebagai media membuat pameran ini unik," ucapnya.
Wulan berharap, ke depan akan ada pameran-pameran unik lagi. Tak hanya terbatas pada media canvas tapi juga pada media-media lainnya. (sif/lid)
Editor : Kholid Amrullah