BATU, RADAR BATU - Sebanyak 42 persen warga yang mengikuti skrining kesehatan gratis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu terindikasi mengalami obesitas. Dari 53.195 warga yang telah diperiksa hingga akhir Juli, sekitar 23,3 ribu orang mengalami berat badan berlebih. Temuan ini menjadi peringatan meningkatnya faktor risiko penyakit tidak menular (PTM).
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr Icang Sarazzin mengatakan, tingginya angka obesitas dipengaruhi perubahan pola hidup masyarakat. Terutama konsumsi makanan tinggi kalori. “Tingginya konsumsi junk food dan kurangnya aktivitas fisik akibat dominasi kerja menggunakan gadget,” ujarnya.
Menurut Icang, obesitas kerap tidak disadari. Sebab, tidak menimbulkan gejala secara langsung. Salah satu indikator yang perlu diwaspadai adalah obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut. Batas lingkar perut maksimal 90 sentimeter untuk laki-laki dan 80 sentimeter bagi perempuan.
Edukasi pola makan sehat melalui konsep Isi Piringku terus diperkuat. Dalam pedoman tersebut, setengah piring diisi sayur dan buah Sedangkan, karbohidrat dibatasi sekitar seperempat piring. “Pola makan kini diarahkan menggunakan prinsip Isi Piringku agar masyarakat lebih seimbang dalam mengatur asupan gizi,” katanya.
Mantan Direktur RS Baptis Kota Batu dr Dolly Irbantoro MMRS menilai obesitas sentral memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan obesitas secara umum. Pasalnya, hal itu berkaitan erat dengan penyakit kronis. “Orang dengan obesitas perut bisa terlihat kurus, padahal penumpukan lemak di area tersebut menjadi faktor utama berbagai penyakit kronis,” ujarnya.
Menurut Dolly, kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi kalori, kurang tidur, dan stres menjadi penyebab utama meningkatnya obesitas. Ia menyarankan masyarakat mengurangi konsumsi karbohidrat berlebih. Selain itu, juga rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari dan mengatur pola makan secara konsisten.
Untuk menjangkau kelompok usia produktif yang sulit datang ke fasilitas kesehatan, Dinkes mengoptimalkan program Aku Cerdik. Melalui program tersebut, kader kesehatan melakukan pemeriksaan berat badan, lingkar perut, tekanan darah, dan gula darah di perkantoran, sekolah, hotel, hingga tempat wisata.
Selain skrining, warga yang terindikasi obesitas juga mendapatkan pendampingan lanjutan. Pendampingan dilakukan melalui konsultasi gizi dan edukasi perubahan gaya hidup. Tujuannya agar risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung dapat ditekan sejak dini. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan