JUNREJO, RADAR BATU - Harga bahan baku kedelai yang kini menembus Rp 10.700 per kilogram dan melesatnya harga plastik kemasan hingga Rp 57.500 per kilogram memaksa pengrajin tempe di Desa Beji, Kecamatan Junrejo memangkas ukuran dan menaikkan harga jual. Padahal, sepanjang semester pertama tahun ini, omzet tercatat merosot 20 persen.
Beban terberat di sektor hulu dirasakan langsung produsen tempe mentah. Priyo Widodo, pengrajin legendaris yang telah 50 tahun merintis usaha di Desa Beji, mengeluhkan tren kenaikan harga kedelai sebesar Rp 100 per hari. “Dulu harga kedelai masih di kisaran Rp 8-9 ribu per kilogram. Sekarang sudah menyentuh Rp 10.700 per kilogram,” ungkap Priyo.
BACA JUGA: Alfi Nurhidayat Jadi Kandidat Sekda Kota Batu Terkaya, Hartanya Tembus Rp 9,17 Miliar
Sekali belanja, ia biasanya harus menebus 200 kilogram kedelai untuk menambal kuota produksi harian. Fluktuasi harga ini kian liar saat memasuki momen hari besar nasional. Saat momen Idul Fitri lalu, harga kedelai sempat menyentuh Rp 10 ribu, lalu turun tipis ke Rp 9.500, sebelum akhirnya melambung lagi ke titik tertinggi saat ini.
Menghadapi pembengkakan modal operasional tersebut, Priyo memilih strategi efisiensi ekstrem. Ia menahan harga jual tempe per lonjor tetap di angka Rp 20 ribu. Namun, ia terpaksa menyusutkan ukuran volume tempe agar terhindar dari ancaman kerugian tanpa harus kehilangan pelanggan setia.
BACA JUGA; Eco Active Park Batu, Wisata Edukasi yang Bisa Memberi Makan Hewan Secara Langsung
Getaran krisis bahan baku ini nyatanya juga menghantam sektor hilir atau pengolahan dengan daya rusak yang lebih parah. Pemilik toko Keripik Tempe SAM, Sri Utami dibuat menjerit oleh meroketnya harga bahan penunjang produksi. Harga plastik kemasan melesat tak terkendali dari Rp 37 ribu menjadi Rp 57.500 per kilogram sejak Januari lalu.
Sementara itu, harga tepung beras ikut terkerek naik Rp 15 ribu untuk setiap karton kemasan 10 kilogram. Di tengah upaya produsen menahan harga tempe mentah lewat penyusutan ukuran, Sri tetap harus mengambil langkah rasionalisasi bisnis. Demi menyelamatkan rasio pendapatan usahanya, harga jual produk akhir terpaksa dikerek naik.
BACA JUGA: Tak Hanya DKV, Ini Jurusan Kuliah yang Membutuhkan Kemampuan Menggambar
Harga keripik tempe kemasan 400 gram yang awalnya dilepas Rp 25 ribu kini dipatok menjadi Rp 28 ribu per bungkus. Kenaikan harga jual di tengah lesunya perekonomian ini langsung memukul daya serap pasar secara instan. Sri mencatat adanya penurunan angka penjualan yang cukup tajam dan nyata.
“Mulai awal tahun ini, daya beli masyarakat rasanya berkurang. Penjualan kami turun sekitar 20 persen dibandingkan kestabilan tahun 2024 dan 2025 lalu,” keluhnya. Kini, para pelaku UMKM di sentra Beji hanya bisa menanti intervensi konkret pemerintah. Mereka mendesak adanya langkah stabilisasi harga rantai pasok dari hulu ke hilir. (Ramyzard Rafsanjani/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan