BATU - Di Pegadaian Unit Pelayanan Cabang (UPC) Batu, volume transaksi harian tercatat merosot tajam hingga 50 persen. Pada Januari dan Februari lalu, aktivitas harian yang mencakup gadai, tebus, dan lelang mampu menembus 100 transaksi. Kini, jumlah tersebut terpangkas menyisakan rata-rata 50 transaksi per hari.
Tekanan ekonomi akibat lonjakan harga kebutuhan pokok dan tahun ajaran baru diduga yang menjadi pemicu utama. Pergeseran tren transaksi juga sangat kentara. Dari total 50 aktivitas harian, 25 di antaranya merupakan transaksi gadai baru dan 20 sisanya adalah perpanjangan masa gadai.
BACA JUGA: PKL Liar di Alun-Alun Kota Batu Terancam Tipiring
Sementara itu, penyelesaian pinjaman menurun drastis dengan rata-rata hanya lima transaksi tebus barang dan satu lelang per hari. Pengelola Pegadaian UPC Batu Nani Trisnawati mengungkapkan, mayoritas nasabah kini terpaksa menunda penyelesaian pinjaman akibat melemahnya daya beli.
“Sekitar 70 persen nasabah memilih memperpanjang masa gadai demi mengamankan barang jaminan. Sebaliknya, hanya 30 persen yang memiliki kemampuan finansial untuk menebus penuh,” ujar Nani. Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode sebelumnya di mana angka tebus dan gadai berjalan seimbang.
Banyak nasabah membatalkan niat menebus asetnya karena dana yang ada harus dialihkan untuk kebutuhan mendesak. “Banyak yang awalnya sudah menjadwalkan tebus barang akhirnya berpikir ulang. Uangnya dialihkan dulu karena harga sembako naik bersamaan dengan masuknya tahun ajaran baru,” tambahnya.
BACA JUGA: Rp 40 Miliar Habis untuk BPJS, Pemkot Batu Benahi Data agar Warga Miskin Tak Lagi Terlewat
Fenomena tersebut dirasakan langsung Elok Saputri, warga Desa Pesanggrahan. Ia terpaksa menjaminkan perhiasan emasnya sebagai jalan pintas untuk mendapatkan modal segar secara aman. “Saya gadai emas untuk keperluan sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari. Mau dijual ke toko sayang, jadi digadai dulu, nanti kalau ada rezeki baru ditebus,” tutur Elok.
Beban nasabah kian bertambah lantaran nilai taksiran emas di Pegadaian ikut menyusut mengikuti tren global. Harga taksiran yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp 2,9 juta per gram, kini merosot tajam menjadi Rp 2,1 juta per gram. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan