Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Selisih Harga Konsumen Apel Tembus Rp 30 Ribu per Kg, Digempur Penyakit, Kelompok Tani Apel Sisa 25 Persen

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 14 Juni 2026 | 14:00 WIB
Grafis bencana ganda apel Batu.
Grafis bencana ganda apel Batu.

 

BATU, RADAR BATU - Populasi petani apel di Kota Batu anjlok tersisa 25 persen. Hal itu tidak lepas dari hantaman epidemi penyakit dan kejamnya disparitas pasar. Selisih harga jual di tingkat petani dengan konsumen bahkan bisa tembus Rp 30 ribu per kilogram. Itulah mengapa keberlangsungan komoditas ikonik ini semakin tercekik.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno menyoroti ketimpangan ekstrem tata niaga tersebut. Beban petani kian berat karena harus memutar modal produksi yang tinggi. Biaya produksi apel saat ini sangat mahal di tengah ketidakpastian harga pasar.

BACA JUGA: Profil Folarin Balogun, Striker AS yang Borong Dua Gol ke Gawang Paraguay

“Di tingkat petani, harga apel sering kali hanya berkisar Rp 10 ribu per kilogram, tetapi ketika sudah masuk ke tangan konsumen di pasar, harganya bisa melonjak drastis hingga mencapai Rp 40 per kilogram,” ungkap Hendry. Di luar jeratan tengkulak dan spekulasi harga, petani juga digempur penyakit busuk buah, kutu sisik, dan daun perak.

Hendry menyebut penyakit busuk buah menjadi momok paling mematikan. Sebab, penyakit tersebut menyerang sejak tanaman baru mulai berbuah. Tidak seperti penyakit lain yang kerap menyerang di fase pascapanen.

BACA JUGA: Nanik S. Deyang Bantah Narasi Viral Terkait Aliran Keuntungan Program MBG ke Presiden

Ganasnya penyakit ini dirasakan langsung oleh Suliono, petani asal Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. Frustrasi akibat gagal panen memicu eksodus petani ke komoditas lain. Di kelompok taninya, dari total 30 anggota awal, kini hanya tersisa 7 hingga 8 orang atau sekitar 25 persen yang masih bertahan.

Suliono sendiri sempat menelan pil pahit pada 2023 saat 95 persen tanaman di lahan seluas 2.500 meter perseginya hancur total. “Varietas Manalagi terbukti paling rentan terhadap gempuran penyakit dibandingkan jenis Anna dan Rome Beauty,” ujarnya.

Faktor cuaca turut mempercepat penularan patogen. Petani lain, Utomo mencatat kerugian akibat pembusukan buah pada musim hujan membengkak hingga 20 persen, sedangkan saat kemarau bisa ditekan menjadi 5 persen.

BACA JUGA: Daya Tampung SMP Jalur Domisili Bumiaji Dirilis, Ini Rincian Kuotanya

Demi menekan biaya produksi yang menembus Rp 20 juta per musim, Utomo kini beralih meracik pestisida nabati dan pupuk organik cair. Formula lokal ini tetap dikombinasikan dengan dosis kimia untuk membunuh hama yang sudah kebal atau resisten.

Guna menyiasati kerugian, buah yang telanjur bergejala busuk ringan tidak langsung dibuang. Namun, dipilah untuk diolah menjadi keripik apel dan carang mas. “Pembuangan total baru diterapkan jika pembusukan melampaui separuh daging buah demi memutus rantai penularan di lahan,” tandasnya.

 

400 Hektare Lahan Apel Beralih ke Jeruk dan Hortikultura

Fenomena alih fungsi lahan perkebunan di Kota Batu kian menggerus eksistensi komoditas apel. Tercatat sebanyak 400 hektare lahan apel kini telah beralih wujud menjadi area budidaya jeruk dan aneka hortikultura. Kondisi ini memicu anjloknya populasi petani apel secara signifikan, dari semula 20.000 orang menjadi tersisa 18.408 orang pada 2023.

Menyikapi krisis penyusutan lahan dan SDM ini, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengaku terus melakukan intervensi guna memaksimalkan produktivitas lahan yang tersisa. “Kami bergerak cepat mematangkan kompetensi petani lewat pembekalan bimbingan teknis (Bimtek) yang intensif,” ujarnya.

BACA JUGA: Perkembangan Terkini Jalur Domisili SPMB Online SMP Kota Batu 2026

Langkah edukasi tersebut dibarengi penyaluran Alat Mesin Pertanian (Alsintan) modern. Dengan begitu, efisiensi penggarapan lahan di tengah keterbatasan tenaga kerja bisa terdongkrak. Meski begitu, Hendry menyebut masih ada beberapa petani yang gigih mempertahankan lahan apelnya.

Salah satu petani yang memilih bergeming yakni Suliono. Petani di kawasan lereng Gunung Arjuna, khususnya di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji menolak mengikuti tren dan bersikeras mempertahankan kebun apelnya. “Saya bisa beli lahan hingga bangun rumah merupakan hasil dari apel. Jadi apapun yang terjadi saya akan tetap bertahan,” tuturnya.

BACA JUGA: Malang Raya Menggigil, Fenomena Mbediding Diprediksi Berlangsung Beberapa Bulan ke Depan

Demi mempertahankan lahan dari gempuran tren komoditas lain, Suliono aktif berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menemukan bibit unggul tahan penyakit. Petani juga menyiasati panjangnya jeda produksi dengan menerapkan sistem tumpangsari.

Mereka menanam cabai, kembang kol, dan terong di sela pohon utama untuk menekan biaya pupuk serta menjaga arus kas alias cashflow harian. Siasat bertahan juga diwujudkan lewat digitalisasi sektor hilir. Petani memotong jalur tengkulak dengan memanfaatkan fitur live streaming TikTok hingga e-commerce.

BACA JUGA: Wajib Diketahui: Kenali Hak dan Kewajiban Kita sebagai Warga Negara Indonesia

Suliono menyebut aktivitas kekinian itu dilakukan melalui intervensi generasi muda di Desa Sumbergondo dan Tulungrejo. “Kalau mengandalkan setor ke pasar induk atau tengkulak, harganya sering jatuh dan ada potongan timbangan. Dengan jual secara live dari kebun, pembeli bisa melihat kesegaran buahnya,” ungkap Suliono.

Melalui rute digital, apel yang biasanya hanya dihargai tengkulak Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu per kilogram kini mampu dijual langsung ke konsumen di kota-kota besar seharga Rp 20 ribu-Rp 30 ribu. Dia juga bisa menekan risiko kerugian dengan mengolah sisa panen bermutu rendah menjadi produk keripik, cuka, hingga sari apel bernilai jual tinggi. (kr2/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#harga buah apel #buah apel #pertanian kota batu