BATU, RADAR BATU - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memukul telak kelangsungan industry perbengkelan di Kota Batu. Ketergantungan pada suku cadang impor membuat harga komponen melambung drastis hingga 50 persen sejak awal tahun ini.
Pemilik HMS Garage di wilayah Junrejo Heru Suwandana mengaku terpaksa merevisi naik seluruh harga komponen.
Kenaikan paling ekstrem terjadi pada pelumas mesin atau oli yang meroket hingga 60 persen. Oli kemasan 5 liter yang awalnya Rp 200 ribu, kini menembus Rp 270 ribu. Sementara oli kemasan 1 liter melesat dari Rp 60 ribu menjadi Rp 75 ribu.
Baca Juga: Efek Domino Kurs Dolar Mulai Gilas Pusat Oleh-Oleh di Kota Batu
Kenaikan juga menyapu komponen krusial lain. Harga radiator merangkak dari Rp 800 ribu menjadi Rp 1,3 juta. Komponen coil naik dari Rp 500 ribu menjadi Rp 700 ribu, disusul cairan pendingin yang melompat dari Rp 45 ribu menjadi Rp 75 ribu.
Ironisnya, inflasi ini dibarengi krisis pasokan dari hulu. “Distributor kini membatasi pengiriman sepihak, dari biasanya lima kardus oli per minggu menjadi hanya dua kardus per bulan. Kondisi tersebut membunuh daya beli masyarakat hingga 50 persen,” ungkapnya.
Baca Juga: Dolar Menguat, Dompet Tercekat? Kuliner 15 Ribu Ini Masih Jadi Penyelamat di Batu
Konsumen kini menyiasati pengeluaran dengan hanya mengganti oli tanpa saringan, atau beralih mencari suku cadang substitusi termurah. Salah seorang pelanggan, Adi Rosadi mengaku terpaksa berburu suku cadang alternatif kelas dua demi menghemat kantong.
“Menurut saya pemerintah harus segera mengambil langkah untuk mengembalikan kurs dolar Kembali ke level Rp 12 ribu agar tidak terus membebani masyarakat bawah,” pungkasnya. (kr2/dre)
Editor : A. Nugroho