Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Virus Gemini Gerus Separo Hasil Panen Tomat, Petani Kerap Abaikan Gejala Awal dan Terlambat Mitigasi

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 2 Juni 2026 | 14:00 WIB
PERTANIAN: Seorang petani di Desa Sumberjo, Kecamatan Batu mengecek tanaman tomatnya yang terkena virus Gemini.
PERTANIAN: Seorang petani di Desa Sumberjo, Kecamatan Batu mengecek tanaman tomatnya yang terkena virus Gemini.

 

BATU, RADAR BATU - Anomali cuaca pada fase peralihan menuju musim kemarau menjadi inkubator mematikan bagi ledakan populasi kutu kebul di sentra hortikultura Kota Batu. Serangga hama itu merupakan vektor utama penyebar virus gemini. Akibatnya, puluhan petani tomat dan cabai harus menelan pil pahit berupa anjloknya produktivitas panen lebih dari 50 persen.

Setia Wahyudi, petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, merasakan langsung imbasnya. Dari total 2.000 batang tomat yang dibudidayakannya, 100 di antaranya telah positif terinfeksi virus. Padahal, modal produksi yang dikeluarkan mencapai Rp 1.500 per batang. Gejala kerusakan mulai menggerogoti saat tanaman baru berusia satu bulan.

BACA JUGA: Tak Hanya Bunga, Batu Love Garden Hadirkan Pengalaman Belajar Seputar Cokelat

Dampaknya langsung menghantam tonase panen secara signifikan. “Normalnya satu batang menghasilkan 2 hingga 3 kilogram tomat. Saat terserang virus gemini, produksi anjlok sisa 1 hingga 1,5 kilogram dan buahnya pun kerdil,” keluh pria yang akrab disapa Yudi tersebut.

Merespons krisis ini, Yudi terpaksa menggempur lahannya dengan penanganan kimiawi. Insektisida Brofeya dan Winder disemprotkan secara berselang-seling guna menekan laju populasi hama pengisap. Fenomena ini dipandang sebagai bom waktu musiman akibat sanitasi lahan yang buruk.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ahli Muda Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangang (Distan-KP) Kota Batu Retno Indahwati menyebut virus gemini adalah patogen klasik. Penyakit ini merusak klorofil yang membuat daun menguning dan keriting, sehingga menghentikan proses fotosintesis secara total.

BACA JUGA: Jangan Sampai Salah Jurusan, Hindari Kesalahan Ini Sejak Sekarang

Siklus infeksi bermula dari gulma liar di sekitar lahan, terutama jenis wedusan (Ageratum Conyzoides) yang menjadi inang utama virus. Kutu kebul kemudian bertindak sebagai kurir perantara menuju tanaman budi daya. “Transmisinya sangat masif dan cepat saat peralihan musim menuju kemarau. Infeksi bahkan kerap terjadi sejak fase pembibitan,” tegas Retno.

Pihaknya lantas menyoroti rendahnya literasi mitigasi petani. Laporan resmi sangat minim, tapi fakta di lapangan menunjukkan paparan virus nyaris merata. Petani dinilai abai dan baru bereaksi saat wabah sudah meluas. Dia menilai penanganan kimiawi di fase kritis jelas terlambat.

BACA JUGA: Menjelajahi Pengalaman Menonton Berbeda Melalui Cloud Theatre Cinema 9D di Kota Batu 

“Harusnya, begitu ada satu atau dua tanaman bergejala kuning dan keriting, segera cabut, musnahkan, lalu ganti dengan bibit sehat,” kritik Retno. Guna memutus mata rantai kerugian jangka panjang, Retno mengeluarkan tiga rekomendasi mitigasi esensial. Pertama, dengan cara rotasi Benih.

Dalam strategi mitigasi tersebut, petani wajib beralih menggunakan benih berlabel TAVI alias Tomato Yellow Leaf Curl Virus Resistant yang kebal virus. Kedua, sanitasi ketat dengan pembersihan gulma inang, khususnya rumput wedusan, harus dilakukan secara berkala. Ketiga, pencegahan dini dengan pengendalian vektor kutu kebul menggunakan insektisida harus diterapkan di awal masa tanam, bukan menunggu populasi hama meledak. (Ramyzard Rafsanjani/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#virus gemini #panen tomat #petani buah dan sayur #kota batu