BATU - Ancaman alih fungsi lahan pertanian menjadi pariwisata memaksa Pemkot Batu merumuskan kompensasi konkret guna menjamin kesejahteraan para produsen pangan. Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto menyodorkan enam klaster program prioritas pemberdayaan petani dalam Rapat Paripurna di Gedung DPRD kemarin (18/5).
Langkah ini diambil sebagai jawaban atas catatan legislatif terkait Raperda Pelindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Heli menegaskan penyusunan Perda harus diiringi dengan keberpihakan kepada petani. Penguncian lahan pertanian demi ketahanan pangan tidak boleh mengorbankan dompet petani.
BACA JUGA: Coban Manan, Air Terjun Tersembunyi dengan Jalur Tracking Menantang
“Ada enam program prioritas dalam perda yang dipastikan memberikan dampak positif bagi petani,” ujar Heli. Keenam program itu meliputi pemberian bantuan sarana prasarana pertanian serta kemudahan akses modal dan pembiayaan. Pemerintah juga menjanjikan penerapan teknologi modern, dibarengi dengan pelatihan SDM secara berkala.
Di sektor hilir, intervensi difokuskan pada penguatan sistem pemasaran agar harga di tingkat petani tetap stabil. “Termasuk mitigasi risiko guna melindungi petani dari ancaman gagal panen,” tegas politisi asal Sumberbrantas tersebut.
Bentuk proteksi tidak berhenti pada tataran teknis. Politisi Partai Gerindra itu menambahkan, pemerintah tengah mematangkan kajian pemberian insentif fiskal yang disesuaikan dengan isi kas daerah. Salah satu opsi paling rasional adalah pemberian diskon atau keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi lahan yang masuk dalam zona hijau LP2B.
BACA JUGA: Hidden Cafe Pondok Koeboed, Tempat Bersantai di Tengah Suasana Alam Pegunungan
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kompensasi yang adil. Ketika hak komersial lahan warga dikunci demi kepentingan publik, pemerintah wajib meringankan beban pajak mereka.
Masa depan agraria di Kota Batu kini diarahkan pada penguatan sektor pascaproduksi.
BACA JUGA: Kenapa Banyak Pelajar Merasa Hari Senin Lebih Melelahkan daripada Hari Lain?
Petani dilarang lagi bergantung pada penjualan bahan mentah yang harganya rentan dipermainkan tengkulak. Oleh karena itu, program pengolahan hasil panen, penguatan branding produk lokal, hingga perluasan rantai distribusi akan digenjot secara paralel.
Nantinya, kawasan sawah abadi ini bakal dikawinkan dengan industri pelesiran lewat konsep agrowisata berbasis lingkungan. Kendati demikian, intervensi modernisasi dan pariwisata tersebut wajib tunduk pada kelestarian ekologis serta kearifan lokal Kota Batu. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan