Peristiwa tragis bocah berusia 10 tahun berinisial YBR itu berhasil meraup atensi seorang Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto. Tragedi bocah asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur yang masih duduk di kelas IV SD itu dinilainya sebagai alarm bahwa kesehatan mental anak sering terabaikan.
Masyarakat digegerkan dengan kisah seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, 10 tahun, yang nekat menghabisi nyawanya sendiri dengan cara gantung diri di sebuah pohon cengkeh, Kamis (29/1) pukul 11.00 WITA.
Sistem dukungan masih terus diharapkan kepada pemerintah. Salah satunya harapan dukungan berbasis komunitas dengan melibatkan lembaga sosial lokal untuk memberi pendampingan psikologis dan emosional bagi anak-anak di daerah.
"Lembaga sosial lokal harus lebih terlibat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak, terutama yang berada di daerah terpencil dengan keterbatasan akses layanan pendidikan," ujar Bagong, Senin (9/2).
"Sebab, anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan," lanjutnya.
Anak-anak rentan merasa terisolasi karena akses terhadap layanan psikologis di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) terbatas. Dukungan yang ada juga dirasa minimsaat menghadapi tekanan maupun persoalan hidup.
"Ini menjadi catatan penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas, melalui apa? Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar," beber Prof. Bagong.
Tekanan sebab faktor kemiskinan, bagi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair itu, juga menjadi salah satu peran yang memengaruhi kesehatan mental anak. Akibatnya, anak rentan merasa cemas, stres, hingga putus asa.
Tragedi ini semakin mengiris hati dengan sepucuk kertas yang ditemukan oleh Polres Ngada. Kertas tersebut berisi surat wasiat tulisan tangan YBR yang ditujukan untuk sang ibu dan keluarga.
Berikut isi surat yang ditinggalkan YBR:
KERTAS TII MAMA RETI (Surat buat Mama Reti)
MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO (Mama saya pergi dulu, jangan menangis ya Mama)
MATA MAE RITA EE MAMA (Mama relakan Saya pergi tidak perlu Mama)
NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA (Menangis dan mencari atau merindukan saya)
Penulis: Qonita Naila Syahida
Editor : Fajar Andre Setiawan