Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

SOROTAN MENSESNEG ATAS KASUS ANAK SD BUNUH DIRI DI NTT, KEPALA DESA DIMINTA LEBIH SERING PANTAU WARGA RENTAN

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 5 Februari 2026 | 19:30 WIB
Surat siswa SD di NTT dan artinya. (Instagram)
Surat siswa SD di NTT dan artinya. (Instagram)

RADAR BATU—Tragedi yang memilukan baru-baru ini terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa sekolah dasar dilaporkan bunuh diri. Insiden tersebut dengan cepat menarik perhatian nasional dan memicu keprihatinan mendalam, termasuk dari Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.

Prasetyo menyikapi kejadian tersebut dengan meminta kepala desa dan perangkat wilayah lebih aktif berperan dalam memantau masyarakat. Khususnya kelompok masyarakat yang rentan.

Ia menekankan bahwa pemimpin desa dan dusun harus mengambil langkah proaktif untuk mengamati kondisi kehidupan warga, terutama mereka yang mungkin belum menerima bantuan sosial dari program pemerintah.

Menurut Prasetyo, pemantauan tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa tidak ada warga negara yang terabaikan atau dikecualikan dari dukungan yang seharusnya diberikan oleh negara.

Ia menjelaskan bahwa pelaporan yang konsisten dan keterlibatan aktif di tingkat desa dan kecamatan akan sangat membantu pemerintah pusat mempercepat upaya pengentasan kemiskinan dan memastikan kehadiran pemerintah menjangkau bahkan komunitas yang paling terpencil sekalipun.

"Kepala desa atau kepala dusun yang terus-menerus melakukan monitoring dan melaporkan manakala ada warganya yang belum termasuk atau belum tercatat sebagai penerima manfaat dari program-program pemerintah,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/2).

Prasetyo berharap pengawasan yang lebih kuat di tingkat desa dapat mencegah kejadian tragis serupa terjadi lagi, seperti yang baru-baru ini dilaporkan di Kabupaten Ngada, NTT.

Masyarakat sangat terkejut setelah mengetahui bahwa seorang siswa muda di Kabupaten Ngada diduga meninggal dunia akibat tekanan ekonomi yang berat. Laporan menunjukkan bahwa anak tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah dasar, termasuk tidak mampu membeli buku catatan dan alat tulis.

Prasetyo menekankan bahwa meskipun masyarakat tidak dapat sepenuhnya diberdayakan secara mandiri, pemerintah harus memastikan bahwa intervensi dan dukungan menjangkau semua lapisan masyarakat, khususnya yang termiskin dan paling kurang beruntung.

Ia menambahkan bahwa kejadian ini harus menjadi titik evaluasi penting bagi pemerintah dalam meninjau efektivitas kebijakan pengentasan kemiskinan.

“Ini bagian dari yang harus kita evaluasi secara menyeluruh. Masalah pendataan, masalah laporan, termasuk kepedulian sosial kita,” imbuhnya.

Sementara itu, duka cita menyebar di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Seorang siswa kelas empat, yang diidentifikasi sebagai YBS, berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Tragedi itu dilaporkan bermula dari permintaan sederhana yang dibuat sehari sebelumnya. YBS meminta ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah. Sayangnya, ibunya tidak dapat memenuhi permintaannya karena kesulitan keuangan.

Ayahnya telah meninggal sebelum ia lahir, dan ia tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia, sementara ibunya tinggal di desa lain bersama anak-anaknya yang lain.

Insiden itu menjadi lebih memilukan setelah petugas polisi menemukan catatan tulisan tangan dari anak itu yang ditujukan kepada ibunya. Dalam surat itu, yang ditulis dalam dialek setempat, ia meminta ibunya untuk tidak menangis dan menerima kepergiannya, diakhiri dengan gambar kecil menyerupai wajah tersenyum.

 

Penulis: Qonita Naila Syahida

Editor : Fajar Andre Setiawan
#mensesneg #ntt #anak sd #bunuh diri