BATU – Sebagian besar pedagang kaki lima (PKL) di kawasan kuliner Alun-Alun Kota Wisata Batu sudah memasang Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk mempermudah pembayaran. Sayang, saat ini banyak yang tidak berfungsi. Beberapa wisatawan yang tidak membawa uang tunai terpaksa balik badan dan batal membeli.
Hingga kemarin (13/7), gambar QR Code untuk pembayaran menggunakan QRIS masih tetap dipasang para pedagang. Tapi, saat wisatawan hendak membayar menggunakan QRIS, pedagangnya malah meminta tunai dengan alasan. Mereka beralasan QRIS tidak bisa digunakan. Beberapa wisatawan lain memilih balik badan lantaran tak membawa uang tunai.
Ketua Umum Paguyuban PKL Alun-Alun Kota Batu Puspita Herdysari menjelaskan, total pedagang yang menggunakan QRIS mencapai 70 persen. Di sana terdapat 537 PKL yang aktif berjualan. Artinya, ada sekitar 376 PKL memasang opsi pembayaran digital. “Memang bukan program wajib. Kami hanya membuka kerja sama dengan bank,” tuturnya.
Pipit, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa QRIS yang tidak berjalan biasanya berada di stan pedagang yang sudah lanjut usia. Mereka kurang cakap dalam memahami penggunaan teknologi. Itulah yang menjadi alasan mereka memilih pembayaran secara cash meski sudah mendaftar QRIS.
Hal senada diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Andry Yunanto. Menurutnya, kendala penggunaan QRIS adalah kebutuhan pedagang dalam menyiapkan uang tunai untuk kembalikan sewaktu-waktu. Mereka juga perlu menyiapkan uang tunai untuk berbelanja kebutuhan berdagang.
Biasanya, para pedagang berangkat ke pasar pada dini hari, sehingga enggan untuk mengambil uang di ATM. Apalagi, sebagian pedagang juga sudah berusia lanjut, sehingga kewalahan menggunakan pembayaran digital.
Kendati begitu, Andry terus mendorong para pelaku UMKM untuk menggunakan QRIS. Utamanya di kawasan padat wisatawan. ”Kami rutin menggelar pelatihan kompetensi yang mencakup literasi keuangan digital terhadap para pelaku UMKM,” tandasnya. (ori/fat)
Editor : A. Nugroho