BATU - Harga daging ayam sempat anjlok setelah momen Lebaran 1446 Hijriah beberapa waktu lalu.
Harga di tingkat peternak pernah menyentuh 11 ribu per kilogram.
Meski kini harganya sudah mulai stabil.
Harga di tingkat peternak tak kunjung ikut naik.
Peternak mengaku mengalami kerugian.
Itu lantaran harganya masih di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP).
Salah seorang peternak ayam di Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Otto Sugiarto mengaku HPP daging ayam minimal di angka Rp 18 ribu per kilogram.
Sayangnya, saat ini harga di tingkat peternak masih Rp 15 ribu per kilogram.
“Padahal harga daging ayam di pasar sekarang sudah Rp 26-27 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Dia menilai penurunan harga daging ayam disebabkan overstock.
Sedangkan, dengan kondisi seperti ini, peternak cenderung lebih cepat memanen ayamnya.
Itu akan mengurangi biaya perawatan harian.
Dari biasanya dipanen di hari ke-35 menjadi hari ke-32.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Jatim Bidang Ayam Broiler, Kholiq mengatakan terjadinya overstock disebabkan populasi Grand Parents Stock (GPS) yang dipertahankan lebih lama dari waktu idealnya.
Masa produktif ayam GPS hanya sampai 60 minggu.
Namun, dipertahankan hingga 70 minggu.
Ayam GPS ialah salah satu indukan berperan menghasilkan Parent Stock (PS) yang selanjutnya akan menghasilkan ayam broiler.
Dia menambahkan, kebutuhan daging ayam di Malang Raya diperkirakan sekitar 80-100 ton per hari. (iza/dre)
Editor : A. Nugroho