Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wamenkes RI Minta Skrining Kontak Erat TBC di Kota Batu Diperluas

R
ELIMINASI TBC: Wamenkes RI memberikan pemaparan mengenai pencegahan TBC di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani Batu kemarin (23/10). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
ELIMINASI TBC: Wamenkes RI memberikan pemaparan mengenai pencegahan TBC di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani Batu kemarin (23/10). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

Advertisement

BATU, RADAR BATU - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mendorong perluasan skrining tuberkulosis (TBC). Khususnya terhadap orang yang tinggal serumah dengan pasien. Langkah ini dinilai penting untuk memutus rantai penularan yang selama ini berisiko luput dari penanganan.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr Benjamin Paulus Octavianus menyoroti penanganan TBC yang dinilai masih terlalu berfokus pada pengobatan pasien positif. Padahal, pemeriksaan terhadap kontak erat juga diperlukan. Tujuannya untuk menemukan kasus baru dan mencegah penularan lebih lanjut.

Advertisement

Hal itu disampaikan dalam Deklarasi Penguatan Komitmen Desa dan Kelurahan Siaga TBC se-Kota Batu di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani kemarin (23/10). “Deteksi dini terhadap lingkaran kontak erat yang tinggal dalam satu rumah kerap diabaikan,” katanya.

Menurut Benjamin, penanganan yang hanya berfokus pada pasien positif tanpa disertai pencegahan berisiko membuat penularan terus berulang. Karena itu, pemerintah mendorong strategi jemput bola melalui skrining kesehatan dan pelacakan kontak erat.

Advertisement

Salah satu dukungan yang disiapkan ialah perangkat rontgen portabel untuk menjangkau masyarakat hingga kawasan permukiman dan pedesaan. Pemeriksaan ini diharapkan mempermudah deteksi dini. Terutama bagi orang yang tinggal bersama pasien TBC.

Namun, pemberian terapi pencegahan tidak bisa disamaratakan hanya berdasarkan hasil skrining negatif. Penentuan terapi pencegahan TBC (TPT), termasuk penggunaan obat isoniazid, perlu mengikuti hasil evaluasi tenaga kesehatan dan pedoman medis yang berlaku.

Di Kota Batu, jumlah kasus TBC disebut telah mencapai sekitar 580 kasus hingga tahun ini. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pencegahan sekaligus memastikan pasien menjalani pengobatan sesuai ketentuan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu Aditya Prasaja mengatakan, keterlibatan lintas sektor diperlukan. Sebab, tenaga kesehatan memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh masyarakat. Peran pemerintah desa dan kelurahan dinilai penting untuk membantu menemukan kontak erat serta mendorong warga menjalani pemeriksaan.

“Kehadiran Desa/Kelurahan Siaga TBC ini semua pihak di desa dan kelurahan sesuai tugas fungsinya dapat mendukung upaya pencegahan TBC. Mulai dari penemuan kasus dari kontak erat dan terapi pencegahan,” jelas Adit. Saat ini, seluruh 24 desa dan kelurahan di Kota Batu disebut telah menjalankan program Desa/Kelurahan Siaga TBC dengan dukungan lintas sektor.

Advertisement

Artikel Terkait

Wamenkes RI Minta Skrining TBC bagi Masyarakat yang Satu Rumah dengan Penderita Diperluas

Wamenkes RI Minta Skrining TBC bagi Masyarakat yang Satu Rumah dengan Penderita Diperluas

Kemenkes RI mendorong perluasan skrining tuberkulosis (TBC). Khususnya terhadap orang yang tinggal serumah dengan penderita.

Kasus TBC Anak Kota Batu Turun, tapi Penularan Belum Terputus

Kasus TBC Anak Kota Batu Turun, tapi Penularan Belum Terputus

Kasus TBC anak di Kota Batu turun menjadi 10 hingga triwulan II 2026. Dinkes memperkuat deteksi dini dan pendampingan pasien.

TBC Anak Kota Batu Turun, 4 Gejala Ini Perlu Diwaspadai

TBC Anak Kota Batu Turun, 4 Gejala Ini Perlu Diwaspadai

Dinkes Kota Batu mengingatkan empat gejala TBC pada anak. Hingga Juni 2026, tercatat 10 anak terkonfirmasi TBC.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer