Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Sikapi Perbedaan Awal Ramadhan, Ketum PP Muhammadiyah Ajak Masyarakat Cerdas dan Tasamuh

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 17 Februari 2026 | 19:57 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir. (screenshot)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir. (screenshot)

Radar Batu—Pengurus Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa awal Ramadhan tahun ini akan dimulai pada Rabu (18/2). Sementara itu, Pemerintah Indonesia baru akan menetapkan awal Ramadhan setelah pelaksanaan sidang isbat pada sore hari. Adanya perbedaan penetapan awal puasa, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir mengajak masyarakat untuk menyikapinya dengan cerdas dan penuh tasamuh.

Haedar menjelaskan bahwa perbedaan awal puasa merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Menurutnya, perbedaan tersebut akan terus muncul selama umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal yang digunakan bersama.

”Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ungkap Haedar pada Selasa (17/2).

Ia menekankan bahwa perbedaan harus disikapi secara bijaksana. Menurut Haedar, hal yang lebih penting adalah fokus pada substansi puasa, yakni menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.

Dengan meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT, Haedar berharap hubungan sosial di tengah masyarakat juga semakin baik. Haedar optimistis bahwa dengan kecerdasan dan keimanan, umat Islam dapat meraih ketakwaan dan meningkatkan derajat kemuliaannya.

”Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Haedar menegaskan bahwa puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa juga menahan hawa nafsu dan dorongan yang dapat merusak hubungan sosial. 

Ibadah menahan lapar dan dahaga ini mengajarkan umat Islam untuk bersabar. Terlebih di era media sosial yang sering memancing amarah, kebencian, dan konflik, puasa seharusnya menjadi benteng untuk mengendalikan diri.

”Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” imbuhnya.

 

Penulis: Qonita Naila Syahida

Editor : Fajar Andre Setiawan
#ketum pp muhammadiyah #Perbedaan Awal Ramadhan #ramdhan 1447 H