BATU - Anak jalanan, gelandangan, dan pengemis (anjal gepeng) di Kota Batu terus menjadi sorotan.
Tentu keberadaannya akan menjadi citra buruk bagi Kota Wisata Batu.
Anak jalanan, gelandangan, dan pengemis (anjal gepeng) di Kota Batu terus menjadi sorotan.
Sejauh ini tempat yang jadi langganan adalah alun-alun dan Jalan Panglima Sudirman.
Pekerja Sosial Ahli Muda Dinsos Kota Batu Hartono mengatakan mengaku terus melakukan penyusuran untuk mendeteksi keberadaan anjal gepeng.
Beberapa penindakan juga dilakukan atas laporan masyarakat.
Dia menyampaikan bila anjal gepeng memang tergiur dengan keramaian wisatawan di Kota Batu.
Sehingga, mereka sengaja datang untuk memanfaatkan belas kasihan orang-orang tersebut.
“Yang kami amankan berasal dari luar kota semua,” ungkapnya.
Anjal gepeng yang terjaring razia dibawa ke shelter yang berlokasi di Desa Beji, Kecamatan Junrejo.
Petugas akan menggali informasi seputar identitas lengkap.
Setelah itu, Hartono akan berkoordinasi dengan masing-masing dinsos daerah asal anjal gepeng tersebut.
Koordinasi itu akan membahas terkait pemulangan.
Dinsos akan sedikit ringan jika anjal gepeng masih memiliki kerluarga.
Sehingga, pemerintah akan meminta keluarga menjemput.
Opsi selain pemulangan adalah mengirim anjal gepeng ke Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PRS PMKS) Sidoarjo.
Itu dilakukan ketika anjal gepeng sudah tak punya rumah dan keluarga.
Hartono menambahkan jika sejauh ini keterbatasan jumlah petugas menjadi kendala penindakan anjal gepeng.
“Kami hanya bertujuh dan sudah dibagi dua shift untuk piket keliling. Shift satu pukul 07.00-16.00 sedangkan shift dua pukul 16.00-23.00,” imbuhnya.
Selain itu, jumlah dan kualitas shelter juga belum memenuhi standar.
Sehingga, sejauh ini lebih banyak anjal gepeng yang dipulangkan daripada diberikan pembinaan keterampilan tertentu. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana