
BATU, RADAR BATU - Minimnya petani muda di Kota Batu dinilai dapat mengancam keberlanjutan sektor pertanian. Dari sekitar 18.000 petani, hanya 2.500 orang yang berusia 19-39 tahun.
Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu Dewi Kartika mengatakan, regenerasi petani tidak hanya menyangkut jumlah tenaga kerja. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan pertanian daerah.
“Karena itu, pemerintah perlu membuat profesi petani lebih menarik bagi generasi muda. Supaya mereka bisa menjadi petani modern sesuai perkembangan era,” katanya.
Menurut Dewi, anak petani sendiri belum banyak yang memilih meneruskan pekerjaan orang tuanya. Sebagian generasi muda lebih tertarik menjadi karyawan di perkantoran maupun pabrik.
Dewi mendorong keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam menyiapkan sarana serta pengetahuan pertanian modern.
Edukasi diperlukan untuk mengubah pandangan bahwa bertani identik dengan pekerjaan tradisional dan mengandalkan tenaga fisik.
Baca Juga: Erupsi Dini Hari Tadi, Gunung Ili Lewotolok Semburkan Abu Setinggi 600 Meter - Radar Batu
Persoalan regenerasi juga dirasakan Nyamin, petani Desa Sumberbrantas. Petani berusia 62 tahun tersebut mengatakan, tidak banyak anak muda yang tertarik meneruskan profesi sebagai petani.
Karena itu, ia mulai menerapkan cara bertani yang lebih efisien untuk mengurangi beban kerja. Salah satunya menggunakan mesin penyiraman otomatis.


