Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Belajar Penanganan Luka di The Bagong Adventure Museum Tubuh

Rori Dinanda Bestari • Senin, 11 Mei 2026 | 21:00 WIB
SIMULASI: Asisten Manajer Museum Tubuh dan Jatim Park 1 dr Novita Megawati memberikan sosialisasi dan simulasi penanganan luka ringan beberapa waktu lalu.
SIMULASI: Asisten Manajer Museum Tubuh dan Jatim Park 1 dr Novita Megawati memberikan sosialisasi dan simulasi penanganan luka ringan beberapa waktu lalu.

 

BATU - Rendahnya literasi kesehatan dasar di kalangan pelajar sering kali berujung pada penanganan medis yang keliru saat kecelakaan ringan terjadi di lingkungan sekolah. Celah pengetahuan inilah yang coba ditutup melalui program simulasi medis interaktif "Demo Raga Cendekia" yang digelar di The Bagong Adventure Museum Tubuh sepanjang Mei tahun ini.

Rombongan siswa mulai dari tingkat PAUD hingga SMA kini didorong untuk tidak sekadar melihat pajangan anatomi, tapi terjun langsung mempraktikkan prosedur penyelamatan diri.

Program unggulan Jatim Park Group ini menawarkan kurikulum kesehatan yang pragmatis.

BACA JUGA: Pemkot Batu Tawarkan Opsi Kompos Massal

Mulai dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemeriksaan golongan darah, hingga Resusitasi Jantung Paru (RJP). Namun, materi Rawat Luka menjadi magnet utama karena dianggap paling dekat dengan keseharian siswa yang rentan mengalami cedera fisik.

Perawatan luka bukan sekadar menutup kulit yang sobek. Sebagai organ terluar, kulit adalah benteng pertahanan utama terhadap kuman. Tanpa penanganan yang tepat, luka ringan bisa berubah menjadi pintu masuk infeksi yang mengancam nyawa.

Dalam sesi ini, para edukator membedah anatomi luka secara spesifik. Peserta dikenalkan pada karakter luka lecet yang hanya menyentuh lapisan atas, luka sayat benda tajam, luka tusuk yang dalam, hingga luka kronis akibat komplikasi kesehatan.

BACA JUGA: Kebiasaan Mendengarkan Musik saat Belajar, Kenali Dampaknya

Pemahaman ini penting agar siswa mampu membedakan mana cedera yang bisa ditangani secara mandiri dan mana yang memerlukan intervensi medis darurat. Prosedur pembersihan pun dilakukan secara sistematis.

Peserta diajarkan untuk menghentikan pendarahan dengan kasa steril. Lalu, membersihkan kotoran dengan air mengalir tanpa menyentuh area luka dengan sabun secara langsung. Selanjutnya, menggunakan pinset steril untuk benda asing yang tertinggal.

Setelah itu, rombongan juga akan diajarkan cara menutup luka dengan perban kering untuk menjaga kelembapan jaringan. Materi dikemas secara interaktif agar peserta tidak hanya menelan teori.

BACA JUGA: Second Lead Sering Bikin Susah Move On, Kenapa Penonton Banyak yang Lebih Suka Pemeran Kedua?

“Mereka harus bisa mempraktikkan langsung prosedur dasar perawatan luka agar lebih peduli terhadap keselamatan diri sendiri,” tegas dr Novita Megawati, Asisten Manajer Museum Tubuh dan Jatim Park 1.

Selain intervensi luar, edukasi ini menukik ke faktor internal. Proses regenerasi kulit ditekankan sangat bergantung pada asupan protein, vitamin, dan mineral dari makanan bergizi. Pengetahuan komprehensif ini menjadi modal penting bagi anak usia sekolah untuk membangun kemandirian medis di lingkungan sekitarnya.

Akses menuju kelas medis ini tergolong terjangkau. Dengan tambahan biaya Rp 10 ribu dari tiket masuk reguler, rombongan minimal 20 orang sudah mendapatkan modul lengkap. Fasilitas yang disediakan mencakup lembar kerja siswa, panduan dari edukator profesional, hingga sesi fun game interaktif untuk mencairkan suasana belajar. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#Museum Tubuh Batu #jatimpark group #belajar penanganan luka #jtp #Edukatif