BATU - Kenaikan harga plastik mulai menekan biaya operasional pedagang kuliner di Pasar Induk Among Tani dalam beberapa waktu terakhir. Dampaknya, para pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual menu untuk menutup lonjakan biaya tersebut.
Koordinator Zona Kuliner Pasar Induk Among Tani Kinun Aurimak mengatakan kenaikan harga plastik cukup signifikan dan paling dirasakan pedagang minuman. Kebutuhan kemasan sekali pakai yang tinggi membuat beban biaya meningkat tajam.
Baca Juga: Jajanan Tradisional Jadi Primadona di CFD Mbatu Sae Kota Batu
“Mayoritas yang terdampak penjual es atau minuman karena butuh wadah plastik dalam jumlah besar,” ujarnya. Menurut dia, penyesuaian harga sudah mulai dilakukan secara bertahap. Rata-rata kenaikan berada di kisaran Rp1.000 hingga Rp2.000 per menu.
Es teler misalnya, yang sebelumnya dijual Rp11 ribu, kini naik menjadi Rp13 ribu per porsi.
Baca Juga: Baru Tiga Kandidat Masuk, Seleksi Sekda Kota Batu Terancam Diperpanjang?
Kenaikan juga merambah makanan berat. Gado-gado yang semula dipatok Rp10 ribu, kini naik menjadi Rp12 ribu.
“Terpaksa dinaikkan. Kalau tidak, pedagang tidak bisa menutup biaya plastik,” kata Kinun. Meski demikian, tidak semua pedagang langsung menaikkan harga. Sebagian masih memilih menahan harga sambil memantau kondisi pasar.
Kinun sendiri mengaku masih mempertahankan harga soto miliknya di angka Rp15 ribu per porsi. Namun, ia memberi sinyal penyesuaian harga sulit dihindari jika harga plastik tak kunjung turun.
Baca Juga: 4 Gerai Koperasi Desa Merah Putih di Kota Batu Belum Dibangun
“Kalau kondisi tetap seperti ini, kemungkinan soto akan naik ke Rp16 ribu sampai Rp17 ribu,” ujarnya. Saat ini, pedagang berada dalam posisi menunggu. Mereka mempertimbangkan daya beli konsumen di tengah tekanan biaya kemasan. Jika harga plastik terus bertahan tinggi, kenaikan harga menu lain diperkirakan akan mengikuti.
Editor : Fajar Andre Setiawan