BATU, RADAR BATU – Tren pariwisata terus bergeser. Destinasi tak cukup hanya mengandalkan estetika dan hiburan, tetapi juga harus inklusif, sehat, dan berkelanjutan.
Pakar pariwisata Universitas Negeri Malang (UM) Elya Kurniawati menegaskan, pengelola wisata wajib membenahi fasilitas agar ramah bagi semua kalangan. Menurut Elya, aspek kesehatan lingkungan harus menjadi prioritas utama.
Salah satunya melalui pemilihan vegetasi yang tepat di kawasan wisata. Area parkir, misalnya, disarankan ditanami pohon trembesi karena mampu menyerap polusi udara secara optimal.
“Penanaman pohon harus sesuai fungsi. Untuk area parkir cocok trembesi karena daya serap polusinya tinggi,” ujarnya.
Baca Juga: Konsep Mikutopia Batu Disorot Pakar Pariwisata UM, Begini Komentarnya
Di sisi lain, pemilihan tanaman di dalam kawasan wisata juga tidak boleh sembarangan. Elya menyebut tanaman seperti beringin dan bambu lebih efektif dalam menyerap air. Ia menilai penggunaan tanaman bunga saja tidak cukup karena hanya berfungsi sebagai estetika tanpa dampak ekologis signifikan.
Selain penghijauan, standar kesehatan juga perlu diperketat. Pengelola wisata didorong menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta menyediakan pos kesehatan di dalam area wisata. Langkah ini penting untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung selama beraktivitas.
“Standar kesehatan yang baik akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap destinasi,” imbuhnya.
Tak kalah penting, aspek inklusivitas harus menjadi perhatian serius. Fasilitas bagi penyandang disabilitas wajib tersedia secara memadai. Mulai dari jalur khusus, toilet ramah difabel, hingga papan petunjuk dengan deskripsi untuk tuna netra.
Baca Juga: Hybrid Retail Jadi Masa Depan, Pakar UB Sebut Toko dan Pasar yang Tak Go Digital Akan Ditinggal
Elya juga menyoroti fasilitas pendukung yang kerap diabaikan, seperti ketersediaan tempat duduk di titik-titik strategis. Keberadaan area istirahat dinilai penting agar wisatawan tidak kelelahan saat berkeliling.
Kombinasi antara fasilitas yang inklusif dan pengelolaan lingkungan yang baik diyakini mampu menciptakan ekosistem pariwisata berkelanjutan. Dengan begitu, daya tarik destinasi tidak hanya bertumpu pada jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas pengalaman wisata.
Editor : Aditya Novrian