Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Konsep Mikutopia Batu Disorot Pakar Pariwisata UM, Begini Komentarnya

R
Mikutopia diserbu wisatawan selama libur Lebaran. (Rori Dinanda Bestari/ Radar Malang)
Mikutopia diserbu wisatawan selama libur Lebaran. (Rori Dinanda Bestari/ Radar Malang)

Advertisement

BATU, RADAR MALANG – Destinasi wisata baru Mikutopia di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menuai sorotan publik. Wisata dengan konsep penuh warna dan ornamen jamur raksasa itu ramai diperbincangkan di media sosial karena dinilai mirip dengan wahana di luar negeri.

Sejumlah warganet menyandingkan konsep Mikutopia dengan Super Nintendo World di Universal Studios Japan (USJ). Nuansa negeri dongeng yang dihadirkan disebut menyerupai dunia ikonik gim Mario Bros yang populer di Jepang.

Advertisement

Perbandingan tersebut memunculkan pertanyaan soal orisinalitas konsep wisata yang dihadirkan di Kota Batu. Tak sedikit yang menilai kemiripan visual menjadi perhatian utama dalam pengembangan destinasi baru tersebut.

Akademisi pariwisata Universitas Negeri Malang (UM) Elya Kurniawati menilai fenomena ini perlu dilihat dari perspektif industri sekaligus etika. Menurutnya, mengadopsi tren global dalam pengembangan wisata bukan hal yang salah, terutama jika berorientasi pada daya tarik pasar.

“Namun untuk keberlanjutan, sebuah destinasi seharusnya bertumpu pada orisinalitas,” ujarnya.

Advertisement

Elya menjelaskan, wisatawan mancanegara cenderung mencari pengalaman yang berbeda saat berkunjung ke suatu daerah. Mereka lebih menghargai keunikan budaya lokal dibandingkan konsep yang serupa dengan negara asalnya.

“Jika wisatawan dari Jepang datang ke Batu lalu menemukan konsep yang mirip dengan di negaranya, nilai keunikan daerah bisa berkurang. Padahal yang dicari adalah sesuatu yang tidak mereka temukan di tempat asal,” jelasnya.

Ia mencontohkan sejumlah daerah yang sukses mengembangkan pariwisata berbasis identitas lokal, seperti Bali dan Banyuwangi. Keduanya konsisten mengangkat kekuatan budaya, alam, dan tradisi sebagai daya tarik utama.

Menurutnya, pendekatan tersebut terbukti lebih kuat dalam membangun daya saing destinasi wisata dalam jangka panjang.

Elya menambahkan, konsep visual yang berwarna dan atraktif memang efektif menarik perhatian, khususnya bagi pasar anak muda dan pengguna media sosial. Namun, tanpa fondasi identitas lokal yang kuat, daya tarik tersebut dinilai tidak akan bertahan lama.

Advertisement

Artikel Terkait

Tiket Masuk Mikutopia Gratis 3 Hari, 21 Wahana Bisa Jadi Pilihan

Tiket Masuk Mikutopia Gratis 3 Hari, 21 Wahana Bisa Jadi Pilihan

Mikutopia gratiskan tiket masuk bagi warga Malang Raya pada 14–16 Oktober. Tiket terusan 21 wahana dibanderol Rp40 ribu.

Mumpung Tanggal Merah! Ini Rekomendasi Wisata di Batu yang Cocok Untuk Berlibur Bersama Keluarga

Mumpung Tanggal Merah! Ini Rekomendasi Wisata di Batu yang Cocok Untuk Berlibur Bersama Keluarga

Tempat untuk merayakan libur bersama keluarga

3 Wahana Roller Coaster Paling Ekstrem di Malang, Wajib Coba!

3 Wahana Roller Coaster Paling Ekstrem di Malang, Wajib Coba!

Rekomendasi 3 wahana roller coaster ekstrem di Malang dan Batu, dari Jatim Park hingga Mikutopia. Cocok buat pecinta adrenalin!

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer