Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Museum Singhasari Tambah Koleksi Patung Ken Arok

Ahmad Yani • Jumat, 23 Februari 2024 | 18:13 WIB
SERUPA TAPI TAK SAMA: Dua patung Ken Arok yang menjadi koleksi baru Museum Singhasari.
SERUPA TAPI TAK SAMA: Dua patung Ken Arok yang menjadi koleksi baru Museum Singhasari.

SINGOSARI - Museum Singhasari kembali menambah koleksinya.

Kali ini, dua patung kayu Ken Arok telah menghiasi museum, lengkap dengan diorama penunjang.

Dua patung tersebut didatangkan dari Bali, masing-masing berukuran kurang dari satu meter.

Bahan patung berasal dari pohon trembesi yang sebelumnya ditanam di depan Museum Singhasari.

Pohon tersebut ditebang sebagai antisipasi cuaca buruk yang memungkinkan terjadinya pohon tumbang.

Mengingat Kecamatan Singosari menjadi salah satu daerah rawan angin kencang.

Pemelihara Koleksi dan Museum Singhasari Adhika Erwien Pribadi menjelaskan, batang pohon trembesi tersebut lantas dibawa ke Kabupaten Gianyar, Bali untuk dipahat menjadi patung.

“Mayoritas pembuat patung di Gianyar beragama Hindu. Sehingga, sesuai untuk pembuatan patung yang bernuansa Hindu,” ujarnya.

Tidak hanya patung, kayukayu tersebut juga digunakan untuk membuat diorama yang menggambarkan suasana ketika Ken Arok yang berusia sekitar 20 tahun sedang berguru ke Tuan Tita di bawah pohon jambu.

Kisah tersebut bersumber dari Serat Pararaton.

Bahkan, munculnya kelelawar ketika Ken Arok bertapa pun digambarkan secara detail.

Dengan bertambahnya patung sekaligus diorama, diharapkan mampu mengedukasi masyarakat terkait sejarah kerajaan Singosari.

Sekaligus meningkatkan minat masyarakat, utamanya generasi muda untuk tidak melupakan sejarah.

Untuk menguatkan pemahaman terhadap sejarah, di Museum Singhasari juga nantinya akan ada ruang yang menampilkan storyline sejak sebelum hingga berdirinya Kerajaan Tumapel.

Sebelumnya, Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Yossy Indra Hardyanto mengatakan, pihaknya memang perlu menata ulang koleksi museum hingga membentuk storyline.

Narasinya pun sudah tersusun sejak 2021 silam. Namun, perwujudan tersebut tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu singkat.

Sebab, untuk mengubah narasi menjadi penataan secara tiga dimensi memang tidak mudah.

“Rencananya, masing-masing ruangan memiliki cerita dari Ken Arok (raja pertama) sampai Kertanegara (raja terakhir). Sehingga, kami juga perlu mengumpulkan artefak-artefak,” imbuhnya.

Menurut Yossy, penataan ulang diperlukan agar museum tidak terkesan seperti gudang.

Para pemandu wisata juga bisa lebih runtut menceritakan tentang Kerajaan Singosari. (yun/nay)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Museum Singhasari #singosari #Ken Arok