Rela Keliling Daerah untuk Kembangkan Tarian Tradisional.
Kiprahnya dalam pengembangan kesenian tradisional Jawa Timur sudah berlangsung sejak 49 tahun lalu. Sejak saat itu, Maestro Kesenian Jawa Timur Tri Broto Wibisono mulai menciptakan dan mengembangkan tari tradisional Jawa Timur, termasuk Malangan beserta iringannya. Tari Topeng Sekartaji salah satu hasil penataan barunya.
IRINGAN musik tradisional terdengar nyaring begitu memasuki Sanggar Seni Danendar, Jalan Lilin Emas Nomor 18, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Di salah satu sudut ruangan, tampak lima anak berlatih menari dengan gemulai. Mereka anak-anak yang berada di bawah pembinaan Tri Broto Wibisono, Maestro Kesenian Jawa Timur.
Sejak kecil, pria kelahiran 1955 itu mengikuti latihan rutin di gedung kesenian yang dikelola oleh orang tuanya. Saat itu masih belum ada tari Jawa Timuran. Dia berlatih tari Jawa Tengahan. Kemampuannya sangat berkembang pesat. Bahkan ketika duduk di bangku SMP, Tri Broto mulai diajak untuk mengajar tari tradisional. ”Ketika SMA, saya mulai membuka tempat les tari tradisional,” ucapnya.
Namun sayang, dia hanya bersekolah di SMA selama dua tahun. Hingga pada 1973, dia pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia dan lulus pada 1975. Selama menimba ilmu di sana, dia memanfaatkan waktunya untuk melakukan pendalaman, pengamatan, pengkajian, serta latihan dari narasumber di berbagai pusat kesenian Jawa Timur.
Contohnya kesenian tandhakan yang dia pelajari di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Malang, Madura, Bondowoso, dan Lumajang. Wayang topeng di Malang, Madura, dan Situbondo. Kesenian jaranan di Kediri, Tulungagung, dan Trenggalek. Wayang kulit Jawa Timur di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Hingga berbagai jenis karawitan. Misalnya karawitan Surabaya-Mojokerto, Banyuwangi, dan Malangan.
Sekitar 1976, dia mulai memperdalam keahliannya di bidang tari tradisional Jawa Timuran. Sebab, saat itu, tari Jawa Timuran masih belum ada. Hanya berkembang tari Remo dan Banyuwangian. Selebihnya, tari-tarian yang berkembang pada masa itu berasal provinsi lain. Seperti tari dari Jogkjakarta, Jawa Tengah Sunda, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pada tahun itu juga dia membantu pemerintah untuk menjadi narasumber pembelajaran tari remo. Dia menjadi asisten pengajar untuk seniornya dengan memperagakan gerakan-gerakan tari tradisional tersebut. Pesertanya merupakan guru-guru SD. Sejak saat itu, dia semakin bertekad untuk menekuni tari tradisional.
”Tahun 1977, saya mulai membuat tarian sendiri. Berangkatnya dari kesenian tandhakan, wayang topeng, remo, Madura, dan Banyuwangi. Itu saya gabungkan menjadi satu membentuk warna baru kesenian Jawa Timuran,” kata alumni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) itu.
Penggabungan kesenian tersebut juga dengan pemadatan atau pemangkasan bagian-bagian tertentu tanpa menghilangkan makna tarian. Pada masa itu, penyebutan kesenian tradisional masih dengan kesenian rakyat. Sehingga belum spesifik menunjukkan identitas Jawa Timuran.
Pemangkasan tersebut biasanya di bagian-bagian yang berulang. Misalnya ada bagian yang diulangi sebanyak empat kali, Sehingga dia jadikan dua kali. Pemadatan tarian tersebut dilakukan terhadap berbagai jenis tarian. Salah satunya tari topeng patih, bapang, sabrang, gunungsari, dan beskalan. Tarian tersebut merupakan tari topeng gaya Malangan-Kedungmonggo.
”Saya juga membuat penataan baru untuk Tari Topeng Sekartaji dengan Mbah Karimun sebagai narasumber,” ujar mantan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Hiburan Rakyat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya itu. Mbah Karimun dikenal sebagai maestro topeng Malangan yang juga sempat mengajar di STKW. Mbah Karimun telah wafat dan dimakamkan di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji.
Tri Broto sempat tercatat mengajar tari tradisional di sekolah-sekolah. Salah satunya untuk jenjang TK. Gerakan tari yang diajarkan juga berbeda. Untuk siswa TK, gerakannya lebih imajinatif untuk mengasah imajinasi mereka. ”Biasanya tentang hewan, misalnya kupu-kupu, berarti tangannya mengepak menunjukkan sayapnya,” kata Tri Broto sambil memperagakan gerak tangannya.
Saat ini dia masih aktif membina dan melatih tari tradisional di Malang Raya. Seperti bantengan dan jaranan. Selain itu, dia juga memperkenalkan tarian tradisional ke anak-anak. Namun dengan beberapa penyesuaian yang mengikuti perkembangan zaman.
Tidak hanya berkontribusi dalam penataan baru maupun pemadatan tari tradisional, Tri Broto juga menciptakan musik sendiri untuk iringan tariannya. Dia mampu memainkan beberapa alat musik tradisional. Seperti kendang dan jimbe. Biasanya, perekaman suara dilakukan menggunakan laptop. Sedangkan proses editing dilakukan dengan komputer yang memiliki spesifikasi lebih kompleks.
Ratusan lagu juga telah dia ciptakan untuk iringan tariannya. ”Kalau membuat lagu, saya sesuaikan dengan suasana tariannya, kadang juga sesuai tema. Misalnya kalau untuk anak-anak, iramanya lebih ceria,” pungkasnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho