Tak Pernah Absen Hadiri Pentas sejak 2009.
Bagi Tony Yap, menari adalah cara tubuh mengingat dan berdamai dengan luka. Dia rutin datang ke Kota Batu untuk menemukan rumah spiritualnya. Antara tradisi, trance, dan jejak budaya yang tak pernah ditemukan di tempat lain.
LUKA bagi Tony Yap bukan sekadar pengalaman sakit secara medis. Tapi jadi ruang batin cukup dalam yang bisa membuat manusia diam, marah, atau bahkan kehilangan arah. Lewat tubuhnya, seniman asal Australia itu mencoba menceritakan luka itu.
Tampil dalam helatan Bantengan Nuswantoro di Kota Batu pekan lalu, Tony menyalurkan luka itu. Tak banyak kata. Tak ada naskah tertulis. Hanya gerakan perlahan, kadang gemulai, kadang tegas. Semua menggambarkan pergulatan dalam diri manusia yang menyimpan trauma.
Dia tak sendiri. Ada beberapa teman dari luar negeri yang juga ikut andil. Seperti Rithaudin (Malaysia), Ankur (India), Kiki (Jepang), Kien Faye (Malaysia), Taichi (Jepang), dan lainnya.
Penampilan itu dia namai The Wound. Tapi bukan luka yang tampak. Bukan goresan atau darah. Melainkan luka yang tinggal di kepala dan hati manusia. Yang bisa mengendap menjadi amarah atau tumbuh menjadi kesunyian.
”Saya tidak latihan khusus. Semua datang dari tubuh saya sendiri,” ungkap Tony.
Dia mendengarkan suara alam. Tonny merasa bagian dari lingkungan sekitar. Media semacam keranda berwarna hijau digunakan sebagai bagian dari performa.
Dia menari di dalamnya, membaur dengan air, tanah, dan suasana panggung terbuka di jalanan Kota Batu. Hijau dipilih sebagai representasi alam yang menyembuhkan, namun tetap menyimpan misteri.
Tony memang dikenal sebagai seniman lintas disiplin. Dia penari, sutradara, koreografer, sekaligus pengamat spiritualitas dalam seni. Lahir di Malaysia, lalu lama menetap di Australia, kini dia justru merasa lebih dekat dengan budaya di Indonesia khususnya tradisi-tradisi dari Jawa Timur.
”Saya suka trance (kesurupan) di sini,” ucapnya. Di Indonesia, terutama dalam Bantengan, trance bukan sekadar kehilangan kesadaran. Tapi jalan menuju keterhubungan antara tubuh, roh, dan leluhur. ”Itu tidak saya temukan di tempat lain,” terang Tonny.
Itulah yang membuatnya rutin datang ke Kota Batu sejak 2009 silam. Dia hampir tak pernah absen dalam setiap edisi Bantengan Nuswantoro. Tahun lalu, dia tampil di Dusun Keliran, Desa Bumiaji. Tahun ini, dia kembali, bukan hanya sebagai tamu, tapi bagian dari ritual budaya.
Selama hampir sepekan, Tony tinggal di salah satu hotel kecil di Desa Punten bersama seniman mancanegara lain. Tidak hanya datang untuk menari, tapi juga untuk belajar. Berbaur dengan masyarakat, berdialog dengan sesepuh Bantengan, hingga berkunjung ke sentra-sentra budaya lokal seperti Galeri Anjani Bumiaji dan lumbung stroberi di Pandanrejo.
”Saya banyak belajar dari Mas Agus,” katanya. Sosok Agus Riyanto, pembina Bantengan Nuswantoro menjadi inspirasinya.
Dalam kirab akbar Bantengan Nuswantoro, Tony juga tampil bersama kelompok Bantengan Internasional. Dia tak lagi tampil solo, melainkan menjadi bagian dari barisan yang menyuguhkan tarian, permainan topeng, dan koreografi khas Bantengan.
Meski kini berkiprah di luar negeri, jejak Tony dalam dunia tari sudah dimulai sejak dekade 80-an. Dia pernah menjadi penampil utama dalam Teater International Repertory of Arts and Artists (IRAA) dari tahun 1989 hingga 1996. Di samping itu juga meraih Green Room Award untuk kategori Penari Pria Terbaik di Melbourne.
Namun, semua pencapaian itu tidak membuatnya berhenti belajar. Apalagi terhadap budaya Jawa.
Sejak 2005 dan 2008, Tony sempat mendapatkan program residensi dari Asialink untuk mendalami budaya Indonesia. Dia juga mendapat beasiswa seni tari dari Dewan Kesenian Australia untuk fokus pada riset tarian trance dan psikofisik Asia. Itu yang akhirnya membawanya mendalami Bantengan.
”Setiap tahun saya kembali ke sini,” katanya. Bukan karena sudah tahu semuanya. Tapi justru karena dia selalu menemukan hal baru dari budaya tearsebut.
Sebelum tiba di Batu, Tony juga sempat tampil dalam Bandung Art Festival pada 25–27 Juli, bersama beberapa seniman mancanegara lainnya. Setelah itu, barulah dia bergabung dalam seluruh rangkaian Bantengan Nuswantoro hingga 5 Agustus.
Tahun depan, Tony berencana kembali hadir dalam edisi ke-18 acara itu. ”Saya merasa belum selesai belajar,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Tony, menari bukan sekadar pertunjukan. Tapi cara tubuhnya bicara tentang luka, tentang ingatan, dan tentang perjalanan jiwa. Dan selama masih ada yang bisa didengar dari alam, dia akan terus menari. Diam-diam. Pelan-pelan. (*/adn)
Editor : A. Nugroho