Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kisah Silvia Putri Cahyani yang Baru Memiliki Identitas Resmi saat Lulus SD

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 19 Juni 2025 | 20:11 WIB
SEMRINGA H: Silvia Putri Cahyani menunjukkan akta kelahirannya yang baru diterbitkan bulan ini.
SEMRINGA H: Silvia Putri Cahyani menunjukkan akta kelahirannya yang baru diterbitkan bulan ini.

Nyaris Putus Sekolah dan Tak Terima Ijazah.

Silvia Putri Cahyani nyaris tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Ijazahnya sempat terancam tak bisa terbit karena NIK-nya tidak terdeteksi. Kini permasalahan itu telah menemui titik terang setelah ditangani Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto.

NASIB baik masih berpihak pada Silvia Putri Cahyani. Gadis cilik yang baru saja tamat pendidikan dasar di SDN Tulungrejo 3 itu akhirnya bisa mendapatkan ijazah. Sebab, hampir saja ijazah itu tidak bisa terbit karena Silvia tak memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Beberapa hari gadis kelahiran Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Palembang itu tak enak makan. Khawatir kalau tak bisa melanjutkan sekolah. Dia sudah terbayang akan bekerja serabutan. Itu jika ijazahnya benar-benar tak bisa keluar. Namun, dalam benaknya ingin terus sekolah. Mengejar impian untuk menjadi seorang polisi wanita (polwan).

Harapan itu akhirnya bukan sekadar angan. Apalagi setelah dia punya NIK melalui bantuan langsung dari Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto. Heli menyerahkan akta kelahiran dan Kartu Keluarga (KK) yang baru kepada orang tua asuh Silvia di kediamannya di Dusun Jurangkuali, Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji pada 14 Juni lalu.

Identitas itu kemudian digunakan pihak SDN Tulungrejo 3 untuk mengurus penerbitan ijazah. Sebab, penerbitannya paling lambat harus dilakukan sebelum 26 Juni nanti. Bantuan pengurusan NIK juga bisa diproses berkat perjuangan pihak sekolah.

Kini Silvia sudah mengantongi ijazah SD. Senyumnya kembali rekah. Gadis penyuka mata pelajaran matematika itu resmi secara administrasi menjadi anak dari pasangan seorang ibu bernama Rusmi dan seorang bapak bernama Sutikno. Keduanya sebenarnya merupakan budhe dan pakdhe Silvia.

Namun, sejak awal memutuskan untuk merawat keponakannya itu, Rusmi dan Sutikno sepakat untuk mengasuh Silvia layaknya anak sendiri. Bahkan, Silvia juga memanggil Rusmi dengan sebutan ibu. Pun memanggil Sutikno dengan sebutan ayah.

Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Batu di kediamannya pada Selasa lalu (17/6), Rusmi menceritakan usahanya agar Silvia memiliki NIK dan identitas resmi. Sebenarnya upaya tersebut sudah dilakukan sejak kedatangan Silvia di Kota Batu tiga tahun yang lalu.

Tepatnya dua hari pascakedatangan Silvi dari Lampung. Rumsi sudah berinisiatif mengurus kepindahan Silvi ke RT, RW, hingga Kantor Desa Sumberbrantas. Sejak saat itu diketahui bila NIK Silvia tidak terdeteksi.

Namun selama ini diketahui bahwa Silvi memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). Sehingga, administrasi mutasi sekolah masih bisa dilakukan. Beruntung Silvia memiliki NISN yang masih bisa terlacak. Sehingga, dia bisa melanjutkan sekolah di SDN Tulungrejo 3.

Pihak sekolah pun turut membantu mengurus NIK yang bermasalah itu. Namun, prosesnya cukup alot. Apalagi saat harus meminta surat pernyataan penyerahan tanggung jawab dari ayah kandung Silvia kepada Rusmi dan Sutikno. Maklum, ayah gadis pencinta kucing itu sudah memiliki keluarga baru.

Ijazah SD mungkin biasa untuk sebagian orang. Tapi tidak untuk Silvia. Selembar kertas itu sangat berharga. Sebab, dia sadar hanya dengan pendidikan dia bisa merubah nasibnya yang tak seberuntung anak-anak lainnya.

Dia sudah kehilangan sang ibu untuk selama-lamanya saat duduk di bangku kelas dua SD. Dari situlah kehidupan gadis kelahiran 2 September 2011 itu mulai tidak stabil. Dia pernah diajak ayahnya pindah ke Lampung. Tinggal bersama adik sang ayah.

Dia sempat tidak sekolah selama beberapa tahun. Pernah pula harus mengulang kelas lantaran gap year tersebut. Itulah mengapa di usia 13 tahun dia baru saja menamatkan pendidikan dasar. Saat itu Silvia juga harus membantu ekonomi keluarga. Seperti menjual ikan hasil tangkapan sang ayah.

“Saya jual sampai ke desa sebelah. Biasanya dapat Rp 15 ribu. Dikasihkan ke aku Rp 2 ribu, sisanya untuk beli beras,” ucap Silvia pilu.

Maka wajar bila dia telah terbayang untuk kerja serabutan kalau ijazahnya tak keluar. Sebab, dia sudah biasa membantu ayah kandungnya berjualan ikan di Lampung. Namun, tak lama kemudian ayah Silvia menikah lagi. Akhirnya, Silvia diasuh paman, nenek, dan kakeknya di Lampung.

Di situlah Rusmi dan Sutikno merasa iba dan mulai muncul keinginan mengasuhnya. Sampai pada 29 Juli 2022 silam, Rusmi dan Sutikno memboyong Silvia ke Kota Batu.

Kini Silvia bisa fokus mengejar cita-citanya. Apalagi Pemerintah Kota (Pemkot) Batu tidak lepas tangan setelah membantu menguruskan NIK. Dia kemudian dimasukkan ke Sekolah Rakyat Kota Batu dan masuk kategori kelompok rentan anak terlantar.

Sehingga, Silvia akan terus menda patkan perhatian dari pemerintah. Bahkan, hari ini (19/6) pukul 10.00 dia akan menerima kunjungan dari Staf Khusus Presiden RI dan jajaran pejabat di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. (dre)

Editor : A. Nugroho
#identitas #Bumiaji #akta #sd #lulus