Profil Owner Giri Palma Made Raji Mahendra, Sempat Terpuruk karena Pandemi, Kini Bangkit dan Rajin Kolaborasi
Fajar Andre Setiawan• Senin, 23 September 2024 | 18:02 WIB
Made Raji Mahendra, Owner Giri Palma
Kini Gandeng Artis Nasional untuk Kolaborasi
MADE Raji Mahendra termasuk salah satu pengusaha sukses di Kota Malang.
Bisnis furniture yang ia jalankan sejak 2007 lalu mampu merajai brand mebel di Jawa Timur.
Bahkan, Made berencana mengepakkan sayap lebih lebar lagi.
Ia ingin giri palma bisa dikenal secara nasional.
Salah satunya dengan menggandeng artis ibukota yakni Ivan Gunawan.
Rencana itu sudah mulai ia realisasikan.
Minggu (15/9) lalu ia mengundang artis yang akrab disapa Igun itu di salah satu store giri palma di Jalan Wilis Nomor 3, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Kehadiran Igun sebagai simbol keseriusan atas kerja sama yang akan dijalin ke depan.
Igun nantinya sekaligus menjadi brand ambassador giri palma.
Made bakal mengeluarkan produk baru bersama host program Brownis itu.
Yakni kasur khusus orang yang memiliki berat badan berlebih dan keluhan ortopedi.
Ia menyebutnya kasur antisakit pinggang.
Bahkan saat ini sudah ada prototipe yang ia pajang di storenya.
Kesuksesan Made menjalankan bisnis itu tentu tak mulus.
Pasang surut omzet yang ia dapat menjadi hal biasa.
Namun, badai pandemi Covid-19 2020-2022 lalu menjadi tantangan terberatnya dalam mempertahankan esksistensi bisnisnya.
Sebab, Made terpaksa menutup 5 store cabang giri palma saat ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Pasalnya, kebijakan itu membuat sejumlah mal tutup.
Sementara, sebagian besar store miliknya berada di mal.
Kendati begitu, Made tak sampai melakukan pengurangan karyawan.
Sebab, ia merasa memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup karyawannya sekaligus keluarga yang harus mereka hidupi.
“Saat itu omzet turun hingga 70 persen selama 2 tahun,” ujar pria kelahiran 1984 itu.
Namun, Made tak patah arang.
Dia selalu mengingat susahnya membangun giri palma di awal-awal.
Ide berbisnis furniture muncul pertama kali saat dirinya kuliah di Universitas Merdeka (Unmer) Malang 2003 silam.
Ide itu sebenarnya pengembangan bisnis yang sudah dilakukan sang Ibu lebih dulu.
Made sudah terbiasa membantu Ibu menjalankan bisnis furniture.
Meski bisnisnya tak terlalu besar.
Bahkan, toko mebelnya dibuka di sebuah perumahan kecil di Kota Surabaya.
Itulah yang membuat Made punya ketertarikan khusus dengan furniture.
Sejak 2003 itu pula ia sudah mulai merintisnya.
Produksi mebelnya ia promosikan dari mulut ke mulut.
Mulai dari satu rumah ke rumah lain hingga satu proyek ke proyek lain.
Bahkan, ia juga pernah melakukan promosi di beberapa titik lampu merah.
“Saat itu kan masih belum punya toko sehingga harus saya datangi satu per satu,” ucap ayah empat anak itu.
Hingga store pertamanya dibuka pasca ia lulus 2007 silam.
Made mendirikan store pertamanya di Bukit Tidar.
“Bisnis ini kemudian berkembang hingga mempunyai 8 cabang di 2019,” katanya.
Made selalu percayakan naik turunnya bisnis merupakan kehendak tuhan.
Namun, ia memiliki kunci untuk mempertahankan eksistensi bisnisnya.
Yakni selalu bersikap jujur dan memiliki mental yang kuat.
Dengan dua sikap tersebut ia yakin mampu terus bangkit meski berkali-kali jatuh. (sif/dre)