Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kedinginan dan Jatuh di Jalan Tak Ada yang Menolong

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 8 Januari 2024 | 18:20 WIB

DINGIN: Nahya Elfaricha Mafula saat berada di Rusia.
DINGIN: Nahya Elfaricha Mafula saat berada di Rusia.

Nahya Elfaricha Mafula, warga Desa Sidomulyo, Kota Batu ini berhasil kuliah di Saint Petersburg Mining University, Rusia. Apa saja pengalamannya?

KEINGINAN Nahya untuk berkuliah ke Luar Negeri telah mengakar kuat sejak duduk di bangku MTs Amanatul Ummah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

“Saya memang terbiasa merantau. Pas di MTs, saya punya impian kuliah di luar negeri. Pokoknya saya ingin kuliah yang jauh demi mendapatkan ilmu,” terangnya mengawali pembicaraan.

Berbagai macam ikhtiar telah Nahya lakukan.

Mulai dari mencoba mencari beasiswa di Jerman, Hungaria, dan terakhir Rusia.

Saat mendaftar di Jerman dan Hungaria sayangnya nama Nahya tidak lolos.

Dan, ternyata Pemerintah Rusialah yang meliriknya.

“Yang saya ingat saya harus mengisi beberapa nama universitas. Alhamdulillah-nya, pilihan tepat di urutan pertama yakni Saint Petersburg Mining University, Rusia dengan jurusan teknik kimia,” ceritanya.

Nahya pun berangkat ke Rusia pada akhir tahun 2021.

Sesampainya di Rusia, perempuan kelahiran Batu, 20 April 2003 ini sempat syok.

Pasalnya, ia tiba saat musim dingin.

Ada salah satu cerita yang tak pernah dilupakan Nahya.

Ia pernah terjatuh di jalanan perkotaan yang licin penuh salju.

“Ketika saya jatuh, ternyata orang-orang Rusia sangat cuek. Mereka hanya memandangi saya. Berbeda dengan orang Indonesia yang terkenal suka menolong,” katanya.

Bagi Nahya, berkuliah dan hidup di Rusia ada suka dan dukanya.

Mulai dari selalu ada ilmu pengetahuan hebat yang ia dapatkan setiap hari.

Kala itu Nahya harus bertahan di ramai-ramainya Perang Rusia - Ukraina.

Sehingga berimbas pada dampak ekonomi.

Bahan makanan menjadi tinggi.

“PR-nya adalah bagaimana cara kita bisa hidup. Di sini Rp 1 juta hanya bisa bertahan 3 hari. Lalu, makanan di sini hambar, tidak se-lezat di Indonesia,” jelasnya.

Selain bertahan hidup, ia pun harus belajar pengucapan dan intonasi Bahasa Rusia.

Sedangkan, tantangan terbesarnya lebih kepada adaptasi terhadap cuaca dingin.

“Suhu saat musim dingin di Rusia bisa sampai minus 35 derajat celsius. Nyerinya menusuk ke tulang. Kadang seharian cuaca-nya mendung. Hal ini sampai memengaruhi mood,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Di sisi lain, Ibu dari Nahya Qoriatul Azizah hanya bisa memberikan dukungan penuh.

“Kami bersyukur Nahya bisa dapat beasiswa penuh dari Pemerintah Rusia dan dibantu Pemkot Batu. Sebagai orang tua, saya hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk Nahya,” tutupnya. (*/lid)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Beasisiswa #Nahya Elfaricha Mafula #rusia