Data Kasus DBD Tak Sinkron, Pemkot Perkuat Surveilans

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:14 WIB
CEGAH DBD: Petugas Dinas Kesehatan melakukan fogging di permukiman warga beberapa waktu lalu. (PROKOPIM KOTA BATU FOR RADAR BATU)
CEGAH DBD: Petugas Dinas Kesehatan melakukan fogging di permukiman warga beberapa waktu lalu. (PROKOPIM KOTA BATU FOR RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batu masih menghadapi persoalan sinkronisasi data. Perbedaan pencatatan antara rumah sakit dan puskesmas membuat tindak lanjut pencegahan di lapangan belum berjalan maksimal. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes), kasus DBD sempat melonjak pada 2024. Tercatat 442 kasus DBD dan 447 kasus Demam Dengue (DD) sepanjang tahun tersebut.

Angka tersebut kemudian berhasil ditekan pada 2025. Kasus DBD turun menjadi 165 kasus, sedangkan DD tercatat 253 kasus.

Namun hingga Juni 2026, masih ditemukan disparitas pencatatan kasus. Data diagnosis rumah sakit mencatat 69 kasus DD dan 13 DBD. Sementara, berdasarkan kriteria program puskesmas, tercatat 66 kasus DD dan tujuh DBD.

Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja mengatakan perbedaan pencatatan tersebut perlu segera diurai. Sebab, data menjadi dasar dalam menentukan langkah intervensi di masyarakat. “Perbedaan data ini membuat tindak lanjut penanganan di lapangan kadang belum maksimal,” terangnya.

Baca Juga: Teror DBD Mengintai Kota Batu di Balik Fenomena Bediding

Persoalan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan kondisi lingkungan Kota Batu. Peningkatan suhu dan pertumbuhan kawasan
permukiman dinilai turut memengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti. “Ini berpengaruh pada pola penyebaran nyamuk. Ditambah pertumbuhan penduduk dan pemukiman yang signifikan,” jelasnya.

Karena itu, Pemkot Batu kini memperkuat konsolidasi melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) 2026- 2029. Salah satu fokusnya menyamakan persepsi dan pencatatan data klinis antara fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan data yang lebih seragam, petugas medis di tingkat bawah diharapkan dapat menentukan intervensi secara lebih cepat dan tepat.

Baca Juga: Gawat! Tiga Zona DBD di Kota Batu Meledak di Awal 2025: Warga Diminta Waspada

Di sisi lain, Dinkes terus menggenjot pencegahan primer. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi surveilans, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta
pemantauan genangan air terutama di kawasan padat penduduk. Langkah tersebut diharapkan mampu mencegah tren kasus DBD kembali melonjak seperti yang terjadi pada 2024. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
RAN dd dinkes dbd