BATU, RADAR BATU - Pembongkaran lapak di kawasan Simpang Patih bukan hanya mengakhiri aktivitas perdagangan di salah satu sudut Kota Batu, tetapi juga menghentikan sumber penghasilan belasan keluarga.
Sebagian besar pedagang kini memilih pulang dan menganggur sementara karena belum mendapatkan lokasi relokasi yang dijanjikan pemerintah.
Salah satunya dialami Tri Mulyati. Setelah lapaknya dibongkar, ia memutuskan berhenti berjualan karena tidak memiliki tempat usaha pengganti.
BACA JUGA: Belum Sepekan Dirazia, PKL Musiman Bermunculan Lagi di Alun-Alun Kota Batu
"Setelah ini saya di rumah dulu. Tidak bisa jualan karena memang tidak punya tempat lagi," ujarnya. Selama dua pekan terakhir, Tri lebih banyak menghabiskan waktu membongkar kios dan memindahkan seluruh perlengkapan dagangan ke rumah. Seluruh biaya pembongkaran ditanggung sendiri, meski pemasukan sudah terhenti.
Baginya, menyewa tempat usaha baru bukan pilihan yang mudah. Harga sewa kios di kawasan strategis Kota Batu dinilai jauh di luar kemampuan pedagang kecil.
BACA JUGA: Relokasi Pedagang Simpang Patih Batu Masih Buntu, 15 Pelaku UMKM Terpaksa Berhenti Berjualan
"Yang sewanya Rp15 juta setahun saja saya tidak sanggup, apalagi sampai puluhan juta. Pendapatan kami kecil, sementara di rumah juga masih harus merawat keluarga yang sakit," tuturnya. Kondisi serupa dialami mayoritas pedagang Simpang Patih. Dari 17 pelaku usaha yang terdampak, hanya dua yang berhasil berpindah secara mandiri. Sisanya masih menunggu kepastian relokasi dari pemerintah.
Hingga kini, bantuan yang diterima pedagang baru berupa penyediaan armada pikap untuk mengangkut barang. Sementara lokasi relokasi yang sempat dijanjikan belum juga dapat digunakan. Situasi tersebut membuat banyak pelaku UMKM kehilangan mata pencaharian di tengah belum adanya kepastian kapan mereka dapat kembali membuka usaha. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan