BATU - Ruang pameran Galeri Raos tampak berbeda dari biasanya. Ruangan yang biasa dihiasi lukisan dinding kini bertransformasi menjadi miniatur hutan, lengkap dengan hamparan tanah basah yang memenuhi seluruh lantai galeri. Setiap pengunjung yang masuk diwajibkan melepas alas kaki. Konsep ini sengaja dirancang agar publik bisa merasakan langsung sentuhan tanah dan kedekatan dengan alam yang kini mulai terkikis.
Melalui instalasi pohon dari limbah kardus dan media tanah, 15 perupa dari Yayasan Pondok Seni Batu merespons isu deforestasi dan masifnya alih fungsi lahan. Pameran bertajuk Tanah Air ini digelar dalam rangka Hari Lingkungan Hidup bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. “Proses pengerjaannya tergolong singkat, hanya memakan waktu sekitar lima hari,” ujar salah seorang perupa yang terlibat, Adi Siswanto.
BACA JUGA: Jatim Park 3 Kota Batu Bakal Boyong Nuansa Street Food Bangkok
Uniknya, media yang digunakan merupakan tanah asli sisa material longsor yang sempat melanda kawasan Bumiaji beberapa waktu lalu. Para seniman harus memboyong dua armada dump truck untuk memindahkan tanah tersebut ke dalam galeri. Adi menjelaskan, instalasi ini merupakan refleksi atas kondisi ekologis Kota Batu. Wilayah dataran tinggi yang seharusnya menjadi area tangkapan air kini banyak ditebang dan dialihfungsikan.
Beberapa waktu terakhir marak sekali lahan dialihfungsikan menjadi kawasan perumahan dan lahan pertanian baru. Dilema peralihan fungsi lahan yang tidak tertata inilah yang memicu berbagai bencana alam di Kota Batu.Selain itu, penggunaan kardus bekas juga menjadi sindiran halus terhadap problem sampah yang belum menemukan solusi konkret. “Harapannya ini jadi pengingat, terutama bagi pembuat kebijakan. Tata ruang kota itu harusnya dikembalikan dan dijaga sesuai dengan fungsinya,” tegas Adi.
BACA JUGA: Realisasi Seret, Cak Nur Evaluasi Kebocoran Parkir Tepi Jalan di Kota Batu
Kreativitas sarat kritik ini mendapat apresiasi tinggi dari pengunjung. Puja, salah seorang penikmat seni mengaku terpukau dengan kemasan pameran yang dikonsep interaktif tersebut. “Saya sering datang ke pameran di sini, tapi kali ini kemasannya berbeda. Pengunjung seperti diajak merasakan langsung pesan ekologis yang ingin disampaikan seniman,” tuturnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan