MALANG, RADAR BATU – Baru-baru ini warga Malang Raya dikeluhkan dengan penurunan suhu udara ekstrem. Penurunan suhu tersebut terjadi di tengah puncak musim kemarau.
Penurunan suhu tersebut kian terasa menggigit saat memasuki waktu malam hingga menjelang pagi hari. Kondisi yang terjadi setiap tahun tersebut dikenal sebagai fenomena bediding.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena tersebut lazim terjadi ketika musim kemarau tiba. Pihak BMKG memperkirakan fenomena bediding akan terjadi sepanjang bulan Juni hingga September 2026.
Baca Juga: Malang Raya Menggigil, Ini 7 Penyebab Udara Terasa Lebih Dingin saat Musim Kemarau
Pihak BMKG menjelaskan bahwa fenomena bediding disebabkan oleh pergerakan angin muson Australia. Peristiwa pergerakan tersebut membawa embusan angin yang bersifat kering dan dingin dari Australia menuju Indonesia.
"Bediding merupakan kondisi dengan suhu lingkungan lebih dingin dibandingkan normalnya, ini merupakan siklus musiman dan ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran yang sifatnya kering dan dingin," ujar Linda Fitrotul selaku Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Kamis (4/6).
Ia menjelaskan bahwa rata-rata suhu bediding diperkirakan mencapai 17—18 derajat Celcius dengan perkiraan waktu mulai pukul 03.00 sampai dengan 06.00 WIB.
Baca Juga: Suhu Dingin Bediding Melanda Malang Raya, BMKG Beberkan Penyebabnya
Menurut penjelasan Linda, pemantauan pada pukul 07.30 WIB menunjukkan suhu pagi hari berada di angka 22–25 derajat Celsius. Sementara saat matahari tepat di atas kepala, yakni pukul 12.00–14.00 WIB, suhu udara merangkak naik ke kisaran 27–29 derajat Celsius.
"Berdasarkan pengamatan pukul 07.30 WIB rata-rata suhu pagi hari sekitar 22-25 derajat Celsius. Namun, saat siang hari sekitar pukul 12.00-14.00 WIB suhunya sekitar 27-29 derajat Celsius ketika bediding," ucapnya.
Mengingat perubahan suhu yang cukup ekstrem, pihak BMKG mengimbau masyarakat agar mengenakan pakaian hangat pada malam dan pagi hari agar terhindar dari dampak buruk fenomena bediding.
Editor : Aditya Novrian