BATU - Penurunan suhu ekstrem yang merata di kawasan pegunungan secara drastis mengubah pola iklim di Kota Batu pekan ini. Fenomena tahunan yang lekat dengan sebutan bediding ini membuat suhu anjlok signifikan hingga menyentuh angka 16 derajat celsius. Hawa beku ini tak sekadar menjadi anomali iklim kemarau, tetapi juga mulai memengaruhi ritme pariwisata dan tingkat kewaspadaan kesehatan masyarakat setempat.
Tren penyusutan suhu ini dikonfirmasi Forecaster on Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso Retno Wulandari. Ia menyebut hawa menggigil ini akan bertahan dalam beberapa pekan ke depan. Pada malam hingga dini hari, suhu udara tertahan di rentang 16-18 derajat celsius. “Sementara pada siang hari, suhu maksimalnya hanya berkisar di angka 25-28 derajat celsius,” papar Retno.
BACA JUGA: Pemkot Batu Pertahankan WTP Ke-11 Beruntun, Tata Kelola Keuangan Kembali Dapat Rapor Tertinggi
Secara analitis, ada dua dalang utama di balik merosotnya suhu belakangan ini. Faktor pertama adalah minimnya tutupan awan di langit selama musim kemarau. Kondisi ini membuat proses pelepasan panas bumi terjadi sangat cepat. “Pada siang hari permukaan bumi menyerap panas matahari. Namun, karena tidak ada awan, panas tersebut langsung dilepaskan kembali secara bebas ke atmosfer pada malam hari,” jelasnya.
Faktor kedua berkaitan dengan pergerakan angin dari belahan bumi selatan. Wilayah Indonesia saat ini berada di bawah pengaruh angin timur atau Monsun Australia. Angin ini membawa massa udara yang relatif kering dan jauh lebih dingin. Kondisi ini diprediksi akan mencengkeram wilayah dataran tinggi seperti Kota Batu hingga Oktober nanti. Selama periode itu, udara akan terasa jauh lebih sejuk pada siang hari dan menggigil saat malam.
BACA JUGA: Fakta dan Dugaan di Balik Penggeledahan Kantor BGN oleh Kejagung
Hawa beku ini bak pedang bermata dua. Di satu sisi, kondisi cuaca ekstrem justru menjadi magnet pariwisata. Kawasan Alun-Alun Kota Batu dan berbagai destinasi wisata alam diserbu pengunjung. Suhu yang dingin memberikan sensasi pelesiran layaknya di luar negeri.
Di sisi lain, cuaca ekstrem menuntut kesiapan fisik yang lebih ekstra. Retno memperingatkan warga lokal dan pelancong untuk tidak meremehkan perubahan cuaca yang drastis ini. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan