BATU, RADAR BATU - Kalangan budayawan meminta Pemkot Batu tidak merusak kelestarian sejumlah situs cagar budaya dalam proyek revitalisasi Simpang Patih (Simpang Orchid). Mereka meminta pemerintah tidak mengabaikan aspek historis yang berisiko mencerabut identitas kolektif masyarakat dari akar budayanya demi ambisi modernitas.
Proyek pelebaran jalan hingga 10 meter tersebut sejatinya didukung penuh untuk mengurai simpul kemacetan. Namun, titik persimpangan ikonik itu dikelilingi rekam jejak sejarah yang panjang. Ketua Umum Dewan Kesenian Kota Batu (DKKB) Sunarto mengingatkan agar pembangunan infrastruktur berjalan santun terhadap warisan masa lalu.
BACA JUGA: Menyusuri Air Terjun Kembar Watu Ondo di Kawasan Cangar
“Harus ada komparasi dan titik temu yang baik antara proyek strategis dengan kawasan heritage. Revitalisasi tidak boleh abai terhadap sejarah,” ujar Sunarto. Sejumlah objek vital yang kini masuk dalam zona rawan terdampak meliputi Tugu Pancasila yang berdiri di atas trotoar, Gereja Jago, hingga Gapura Desa Pesanggrahan.
Struktur-struktur kuno ini dinilai sebagai pilar pembentuk jati diri Kota Batu. Terkait mencuatnya opsi pemindahan Gapura Desa Pesanggrahan demi keamanan konstruksi, Sunarto menilai hal itu bisa dimaklumi secara teknis. Nilai historisnya diklaim tidak akan luntur asalkan letak barunya tidak keluar dari koridor kawasan tersebut.
BACA JUGA: Kenapa Banyak Siswa Merasa Tidak Punya Waktu Meski Seharian di Rumah?
Kendati demikian, ia menuntut dinas terkait tidak mengambil keputusan sepihak di balik meja kerja. “Pemkot wajib menggandeng dan meminta restu sesepuh serta tokoh masyarakat dari tiga wilayah terdampak sebelum mengeksekusi penataan,” tegasnya.
Kawasan Simpang Patih memang sarat nilai purbakala. Di sekitarnya berjejer bangunan legendaris peninggalan masa lalu seperti Hotel Jambe Dawe, yang kini beralih nama menjadi eL Hotel, serta jalur utama menuju situs purbakala Candi Songgoriti. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan