Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Omzet PKL CFD Mbatu Sae Kota Batu Melonjak 30 Persen

Fajar Andre Setiawan • Senin, 18 Mei 2026 | 16:00 WIB
RAMAI: Pengunjung Car Free Day Mbatu Sae membeli jajanan tradisional seetelah olahraga kemarin (17/5).
RAMAI: Pengunjung Car Free Day Mbatu Sae membeli jajanan tradisional seetelah olahraga kemarin (17/5).

 

BATU, RADAR BATU - Sinergi antara penataan ruang publik yang terpusat dan tingginya mobilitas warga saat libur panjang terbukti ampuh menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Car Free Day (CFD) Stadion Gelora Brantas mendulang lonjakan omzet hingga 30 persen kemarin (17/5).

Kenaikan signifikan ini dipicu membeludaknya kunjungan wisatawan sekaligus imbas perhelatan Kejuaraan Kota Drum Band tingkat TK/RA di GOR Gajahmada. Ruang publik itu disesaki lautan manusia sejak pukul 06.00. Mayoritas pengunjung membaur dalam senam massal zumba. Sebagian lain memilih joging atau sekadar berburu kuliner.

BACA JUGA: Hidden Camp Pondok Koeboed, Pilihan Camping dan Barbecue di Tengah Suasana Alam

Koordinator PKL CFD Kota Batu Ahmad Zainul Hasan mengaku meraup pendapatan hingga Rp 400 ribu. Padahal, pada hari biasa ia hanya mengantongi sekitar Rp 250 ribu. “Sebagian besar rekan-rekan PKL di sini juga mencatat persentase kenaikan omzet yang serupa,” ungkap Zainul, penjual es teh tersebut.

Tren positif ini diyakini tak lepas dari kebijakan relokasi. Pemindahan area CFD ke kompleks Stadion Gelora Brantas dinilai sebagai langkah jitu. Aktivitas massa kini lebih terpusat dan terarah. Kondisi lingkungan yang asri juga memperpanjang durasi kunjungan warga. Otomatis, probabilitas transaksi ikut terkerek naik.

Zainul menyadari betul efek ganda dari penyelenggaraan ajang pemancing massa. Ia mendorong Pemkot Batu untuk lebih agresif merancang acara mingguan di sekitar lokasi CFD. Target utamanya adalah menarik lebih banyak massa komunal, terutama kelompok ibu-ibu yang mendominasi perputaran uang di sektor kuliner lokal.

BACA JUGA: Menikmati Kopi Sore di Pendopo Giri Murti dengan Panorama Alam Batu

Bukti nyata lonjakan daya beli ini juga dirasakan Solikhah, pedagang jajanan tradisional. Lapaknya langsung diserbu pembeli sejak pagi buta. Tak butuh waktu lama, jelang pukul 09.00, dagangannya nyaris ludes tak bersisa. “Pengunjung paling banyak memburu lupis dan cenil. Jajanan buatan saya pakai bahan alami dan aman untuk kesehatan,” tuturnya.

Ia mengakui, sejak lapaknya bergeser ke area dalam stadion, grafik penjualannya konsisten menanjak tajam. Tingginya animo pengunjung membuat seluruh dagangannya selalu tandas setiap akhir pekan. (adv/aff/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#CFD Mbatu Sae #pedagang kaki lima