Langkah ini melengkapi penutupan fisik yang sebelumnya dilakukan. Barrier beton permanen telah dipasang untuk menghentikan akses kendaraan. Namun, pengendara masih kerap masuk. Beberapa diketahun lantaran mengikuti arahan navigasi digital.
Baca Juga: Kapolri Listyo Sigit Ingatkan Masyarakat Waspada Jam Rawan Kecelakaan saat Arus Mudik
Dari pantauan lapangan kemarin (17/4), sejumlah kendaraan masih nekat melintas. Sebagian akhirnya putar balik setelah mendapati jalur tertutup. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Batu Aries Setiawan mengatakan jalur tersebut masih muncul sebagai alternatif di aplikasi navigasi online.
Akibatnya, pengendara terutama dari luar kota sering terjebak. Mereka mengejar rute tercepat tanpa memahami risiko medan. “Langkah preventifnya, kami ajukan penghapusan akses jalur itu,” ujarnya.
Baca Juga: Pelanggaran Lawan Arah di Kota Batu Marak di Ruas Rawan Kecelakaan
Dengan penghapusan tersebut, rute Klemuk tidak lagi direkomendasikan. Pengendara diarahkan tetap melalui jalur utama Payung yang lebih aman. Secara teknis, Jalur Klemuk memiliki kemiringan ekstrem. Kondisi ini rawan memicu kegagalan pengereman, terutama pada kendaraan matik.
Kasus rem blong tercatat berulang. Beberapa di antaranya berujung kecelakaan fatal. Warga sebenarnya telah membuat jalur penyelamat darurat. Namun, upaya itu belum mampu menekan angka kecelakaan secara signifikan. Pemerintah kini menggabungkan dua pendekatan. Intervensi fisik di lapangan dan pembatasan digital di peta navigasi.
“Kami tutup aksesnya dari dua sisi,” tegasnya. Pemerintah juga mengingatkan pengendara untuk tidak mengabaikan rambu. Keselamatan tetap bergantung pada kehati-hatian pengguna jalan. Saat ini, pengajuan masih menunggu respons dari pihak Google. Jika disetujui, Jalur Klemuk tidak lagi muncul sebagai rute alternatif di sistem navigasi. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho