Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (16): Agrowisata Jadi Wajah Baru Komersialisasi Lahan

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 14 April 2026 | 09:43 WIB
Wali Kota Batu Memanen Apel di Kebun Bersama Pemilik Kebun
Wali Kota Batu Memanen Apel di Kebun Bersama Pemilik Kebun

 

Di tengah tekanan gagal panen dan fluktuasi harga, petani di Kota Batu mulai beralih ke agrowisata. Kebun tak lagi sekadar ruang produksi, tetapi juga ruang konsumsi wisata. Solusi ini memberi napas ekonomi, tapi di sisi lain memunculkan ancaman ekologis.

ZANADIA MANIK FATIMAH

BUAH apel menggantung rapi di sebuah kebun di Kecamatan Bumiaji. Udara dingin masih setia menyelimuti lereng pegunungan. Namun suasana di kebun itu tidak lagi sunyi. Langkah kaki pengunjung datang silih berganti.

Tangan-tangan mereka memetik buah langsung dari pohon. Aktivitas yang dulu hanya dilakukan petani, kini menjadi pengalaman wisata. Kebun itu telah berubah, dari ruang produksi menjadi ruang konsumsi.

Fenomena ini bukan hal baru di Kota Batu. Dalam satu dekade terakhir, kebun-kebun hortikultura perlahan bertransformasi menjadi agrowisata. Petani tak lagi hanya menjual hasil panen. Mereka juga menjual pengalaman.

BACA JUGA Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (15): Industrialisasi Pariwisata Gerus Regenerasi Petani

Utomo termasuk yang lebih dulu mengambil langkah itu. Ia mulai membuka wisata petik apel sekitar 2011 hingga 2012. Jauh sebelum itu, ia adalah petani murni yang telah bertahan sejak 1977. Perjalanan panjang itu tidak selalu mulus.

Ia pernah mengalami gagal panen berulang kali. Pada saat yang sama, Kota Batu mulai berkembang sebagai kota wisata. Dua kondisi itu bertemu. Agrowisata menjadi jalan keluar. “Kalau panen merugi, setidaknya masih ada pemasukan dari tiket,” ujarnya.

Kini, lahan seluas lebih dari satu hektare miliknya tidak hanya menghasilkan buah. Ia juga menghasilkan arus pengunjung. Sumber pendapatan menjadi lebih beragam. Selain tiket masuk, pengunjung membayar buah yang mereka petik sendiri. Harga jualnya bahkan lebih tinggi dibandingkan harga pasar.

BACA JUGA CFD MBatu Sae Kota Batu Jadi Magnet Runner, Hutan Kota Diserbu Warga

Skema ini membuat risiko kerugian bisa ditekan. Langkah serupa juga terjadi pada komoditas lain. Di kawasan yang sama, kebun stroberi bermunculan sebagai destinasi wisata. Salah satunya dikelola oleh Yeni.

Ia mengembangkan lahan sekitar 2.500 meter persegi. Di atasnya berdiri ribuan polibag yang ditanami stroberi. Setiap pengunjung bisa memetik langsung buah yang diinginkan. Harga yang ditawarkan berbeda.

Stroberi petik langsung dijual Rp100 ribu per kilogram. Sementara buah dari luar kebun dihargai sekitar Rp50 ribu. Perbedaan ini membentuk perilaku pengunjung. Banyak yang memetik sedikit, lalu membeli tambahan dari luar kebun.

Strategi ini untuk menjaga stok buah tetap tersedia. Di balik geliat tersebut, ada perubahan yang lebih dalam. Pertanian tidak lagi semata soal produksi pangan. Ia berubah menjadi komoditas jasa. Petani tidak hanya mengelola tanaman. Mereka juga melayani pengunjung.

Ruang kerja pun berubah. Kebun kini harus ramah bagi wisatawan. Akses menuju kebun diperlebar. Area dipoles agar menarik secara visual. Perubahan ini membawa konsekuensi. Sosiologi Pedesaan Universitas Brawijaya Arief Budi Nugroho melihat agrowisata sebagai solusi jangka pendek.

BACA JUGA PKL Liar di Alun-Alun Kota Wisata Batu Kian Menjamur, Satpol PP Siapkan Strategi Penindakan

Namun, ia mengingatkan potensi dampak jangka panjang. Menurutnya, perubahan fungsi lahan bisa mengurangi tegakan tanaman yang berperan menjaga struktur tanah. Ketika vegetasi berkurang, daya serap air ikut menurun. Risiko longsor dan banjir meningkat. 

Tekanan juga datang dari aktivitas pengunjung. Lalu lintas manusia di dalam kebun menyebabkan pemadatan tanah. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu, volume sampah juga bertambah.

Tidak semua pengunjung memahami cara memperlakukan tanaman dengan benar. Sebab, sara memetik yang salah bisa merusak pohon. Dalam jangka panjang, produktivitas lahan bisa terdampak.

Perubahan orientasi kerja petani juga menjadi sorotan. Dari yang semula fokus pada produksi, kini bergeser pada pelayanan. “Fokusnya berubah dari mengelola lahan menjadi melayani pengunjung,” kata Arief.

Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan mendasar. Apakah agrowisata masih bagian dari pertanian, atau sudah menjadi bentuk baru komersialisasi lahan? Di titik ini, batasnya menjadi kabur. Pertanian dan pariwisata saling bertaut, tetapi tidak selalu seimbang.

Arief menekankan pentingnya intervensi kebijakan. Pemerintah desa perlu memahami kerentanan wilayah. Pemilihan jenis tanaman harus disesuaikan dengan kondisi ekologis.

Tidak semua lahan cocok dijadikan wisata.

Pemerintah kota juga memiliki peran penting. Penguatan sistem rantai pasok pertanian perlu dilakukan agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada wisata. Selain itu, pembagian wilayah harus jelas.

Kawasan pertanian dan kawasan wisata perlu dipisahkan melalui sistem klaster. Dengan begitu, keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan dapat dijaga. “Harus ada batasan. Tidak semua lahan dipaksa jadi wisata,” tegasnya.

Di tengah godaan keuntungan instan, agrowisata memang menawarkan solusi cepat. Ia memberi napas bagi petani yang terhimpit biaya produksi dan risiko gagal panen. Namun tanpa kendali, solusi ini bisa berubah menjadi masalah baru.

Lahan yang hari ini ramai dikunjungi bisa kehilangan daya dukungnya di masa depan. Ketika itu terjadi, yang tersisa bukan lagi kebun produktif, melainkan ruang wisata yang kehilangan akar pertaniannya. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
#alih fungsi lahan #seri pertanian #kebun apel batu