Dari ladang sayur ke kebun wisata. Stroberi menjelma primadona baru yang menggabungkan pertanian dan pariwisata.
RORI DINANDA BESTARI
Lereng Gunung Arjuno kini menyimpan warna baru. Merah stroberi menyembul di antara hijau dedaunan. Mencuri perhatian siapa saja yang melintas. Desa Tulungrejo tak lagi hanya ladang sayur, melainkan juga menjadi ruang wisata.
Di sepanjang jalan, papan kayu berdiri. Menawarkan pengalaman sederhana, yakni petik stroberi langsung dari kebunnya. Wisatawan pun berdatangan dan menepi sejenak. Mereka menikmati buah segar dari pohonnya.
BACA JUGA Longsor dan Pohon Kembali Tumbang di Jalur Payung Batu akibat Hujan Deras
Udara sejuk pegunungan jadi pelengkap yang menciptakan pengalaman yang sulit ditolak.
Stroberi tak lagi sekadar komoditas. Ia naik kelas menjadi bagian dari ekonomi kreatif. Salah satu petani, Yeni Rahmawati telah menanam stroberi sejak 2004.
Namun jalannya tak selalu mulus. Ia pernah berhenti selama sepuluh tahun. Beralih ke sayur-mayur. Persaingan menjadi alasan. Sebab, pasokan dari Bali lebih kuat. Hal itu membuat pasar sulit ditembus.
BACA JUGA Henkus Bedah Modernitas Lewat Pameran “Paradoks Mitologi” di Galeri Raos Kota Batu
Namun pandemi mengubah arah. Tahun 2020, Yeni memulai menanam stroberi dengan pendekatan berbeda. Bukan sekadar bertani, tapi juga membuka wisata. Varietas mencir jadi pilihan. Benihnya berasal dari Bandung. Lalu, ia dikembangkan sendiri.
Hasilnya konsisten manis dan diminati pasar. Namun, di balik manisnya buah ada kerja keras yang tak ringan. Stroberi butuh perhatian harian. Sulur harus dibersihkan. Daun kering mesti dibuang. Sisa petikan perlu dirapikan setiap saat.
Semua itu dilakukan demi sirkulasi udara dan kualitas buah yang bagus. Perawatan tak bisa ditunda dan tak bisa asal. Biaya perawatan tentu juga tak kecil. Pupuk NPK mencapai Rp800 ribu per karung. Pupuk tersebut digunakan rutin setiap minggu.
Tak cukup itu saja, pupuk perlu dicampur nutrisi racikan sendiri. Tujuannya untuk menjaga rasa tetap khas. Namun, hasilnya sepadan. Wisatawan tetap datang. Permintaan stabil dan harga pun kompetitif, yakni Rp10 ribu per ons untuk petik langsung dan Rp50 ribu per kilogram untuk pembelian biasa.
Nilainya jauh naik dibanding masa lalu. Dulu hanya Rp20 ribu per kilogram. Kini stroberi punya nilai tambah. Bukan hanya buah, tapi pengalaman. Yeni mengatur strategi dengan memisah ua kebun miliknya. Satu untuk wisata dan satu lagi untuk suplai pasar.
BACA JUGA Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (12): Jeruk Mulai Menggeser Tahta Apel
Dengan begitu, stok tetap terjaga. Kebutuhan tetap terpenuhi. Aspek keamanan juga diperhatikan. Penyemprotan diatur ketat. Pasalnya, kebun harus ditutup dua hari setelah penyemprotan agar aman dikonsumsi langsung.
Itu dilakukan juga untuk memberi rasa percaya bagi pengunjung. Kendati begitu, tantangan tetap ada. Cuaca jadi faktor utama. Hujan berlebih memicu pembusukan, sehingga buah cepat rusak. Itulah mengapa saat hujan kerapkali buah jatuh sebelum dipetik.
Petani stroberi lain, Agus juga merasakan hal itu langsung. Setiap pagi ia harus memilah buah. Ia harus memisahkan yang busuk agar tidak menular dan tanaman tetap sehat.
Tak ada cara instan selain hanya ketelatenan.
Stroberi mengajarkan satu hal, yakni pertanian bukan sekadar produksi tapi juga adaptasi, inovasi, dan pengalaman. Di Bumiaji, perubahan itu nyata. Ladang sayur kini menjadi destinasi wisata. Stroberi kini bukan hanya buah. Ia adalah harapan baru bagi petani, ekonomi lokal, dan bagi wajah baru Kota Batu.
Editor : Fajar Andre Setiawan