BATU - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Batu kembali memicu bencana tanah longsor, tepatnya di Jalan Lesti Kampung Damai, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu pada Senin malam lalu (17/11) sekitar pukul 18.30. Plengsengan teknis setinggi delapan meter ambrol. Longsoran selebar tujuh meter itu turut menggerus satu rumah warga.
Pondasi rumah milik Agus Widodo terbawa material longsor yang jatuh ke Kali Lesti. Meski begitu, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Suwoko mengatakan, insiden tersebut diduga berasal dari aktivitas tanah yang jenuh usai diguyur hujan semalaman.
“Sehingga, tebing menjadi labil dan berakhir longsor. Satu rumah warga terdampak menyisakan satu meter dari sempadan sungai,” terangnya. Dengan kondisi tersebut, Suwoko menyebut kondisi sempadan Kali Lesti perlu diwaspadai. Sebab, longsor susulan akan berpotensi terjadi apabila curah hujan terus tinggi.
“Untuk mengantisipasi itu, pembersihan material longsor perlu dilakukan. Kami bekerja sama dengan relawan dan perangkat kelurahan setempat dalam proses kerja bakti dan menormalisasi aliran sungai,” jelasnya. Pemberian bantuan darurat juga disalurkan berupa terpal dan karung. Tujuannya mendukung percepatan pemulihan kondisi pascabencana.
Guna meningkatkan kewaspadaan, Suwoko juga tengah melakukan monitoring dan koordinasi di sejumlah titik lain. Seperti di Jalan Cemara Dieng, Dusun Tinjumoyo, Desa Sidomulyo, Jalan Panderman, Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, dan Jalan Anjasmoro, Dusun Kekep, Desa Tulungrejo.
Terpisah, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Doddy Fatturachman menambahkan kegiatan kerja bakti usai tanah longsor dimulai pada pukul 07.30 kemarin (18/11). Pembersihan material berupa rumpun bambu yang menutup saluran juga dilakukan agar airnya kembali lancar.
“Perbaikan plengsengan akan ditangani dinas terkait,” imbuhnya. Doddy mengatakan pemilik rumah terdampak tidak diungsikan. Sebab, bagian rumah yang tergerus longsor berada di sisi belakang dan merupakan bangunan tambahan. Sehingga, aktivitas pemilik rumah masih bisa berlangsung usai kejadian. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho