BATU, RADAR BATU – Sejumlah hotel di Kota Batu menjadikan praktik kerja lapang (PKL) sebagai jalur untuk merekrut calon pekerja. Melalui masa magang yang dapat berlangsung hingga enam bulan, perusahaan menilai kemampuan, kedisiplinan, dan kesiapan mental siswa sebelum menentukan perekrutan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan, keterampilan teknis siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) sebenarnya sudah cukup baik. Sejumlah siswa bahkan mampu bersaing dengan pekerja profesional.
“Dalam kompetisi making bed, misalnya, waktu penyelesaian tugas anak sekolah ini hanya terpaut sedikit, bahkan bisa lebih cepat mengalahkan karyawan profesional,” ujarnya.
Namun, kemampuan teknis bukan satu-satunya pertimbangan perusahaan. Dunia kerja memiliki tekanan, target, dan tuntutan kedisiplinan yang berbeda dengan lingkungan sekolah.
Saat magang, kesalahan masih dianggap sebagai bagian dari proses belajar. Setelah menjadi karyawan, siswa dituntut mampu menjalankan tanggung jawab sesuai standar perusahaan.
“Kalau masih magang melakukan kesalahan dimaklumi, berbeda kalau sudah karyawan,” katanya.
Karena itu, masa magang dimanfaatkan perusahaan untuk melihat karakter siswa secara lebih utuh. Perusahaan dapat menilai konsistensi, komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, hingga ketahanan menghadapi tekanan kerja.
Baca Juga: Karhutla Gunung Butak dan Kawinajang Padam, Perhutani Mulai Telusuri Penyebab - Radar Batu
Siswa yang dinilai disiplin dan mampu mengikuti ritme kerja biasanya mendapat kesempatan menjadi pekerja harian atau daily worker. Mereka juga berpeluang diangkat menjadi karyawan tetap.
“Anak yang konsisten dan bermental bagus biasanya langsung diprioritaskan untuk direkrut,” jelas Sujud.
Menurutnya, pola tersebut menguntungkan kedua pihak. Perusahaan dapat mengenali calon pekerja sebelum merekrut. Sementara siswa memperoleh pengalaman nyata sekaligus peluang kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batu Hartini menyebut, sekitar 85 persen lulusan SMK di Kota Batu tercatat langsung bekerja atau berwirausaha.
Baca Juga: 85 Persen Lulusan SMK Batu Langsung Kerja - Radar Batu
Sektor pariwisata dan agribisnis menjadi bidang yang banyak menyerap lulusan. Kompetensi yang dibutuhkan antara lain perhotelan, hospitality, tata boga, serta pengolahan hasil pertanian.
Namun, tingginya angka serapan belum otomatis menunjukkan seluruh lulusan mampu bertahan dalam pekerjaan. Karakter, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi tetap menjadi faktor penting.
Karena itu, Sujud mendorong sekolah memperkuat pola magang dan pemerintah menambah pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Pelatihan tambahan dinilai dapat membiasakan siswa menghadapi tekanan dan standar kerja sebelum masuk industri.
Dengan demikian, magang tidak hanya menjadi kewajiban sekolah. Program tersebut juga dapat berfungsi sebagai tahap awal seleksi tenaga kerja yang lebih sesuai kebutuhan perusahaan.
Editor : Fajar Andre Setiawan